DESKRIPSI GAMBAR

Breaking News

Isi Surat Tidak Nyambung, Lagi-Lagi Upaya Menggusur Lahan Taman Kota II Mendapat Kendala

Isi Surat Tidak Nyambung, Lagi-Lagi Upaya Menggusur Lahan Taman Kota II Mendapat Kendala

 Jika semua para penunggu kavling yang ada dideretan sebelah kiri pintu masuk di minta untuk mengosongkan dan disuruh pindah menjadi satu dengan deretan kavling sebelah kanan pintu masuk, sepakat menolak.

Tangsel, MEDIA INVESTIGASI.COM- Berawal dari kegelisahan para pedagang tanaman hias Taman Kota 2 BSD tentang pengosongan lahan dari surat yang diterima dari sumber Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Selatan (PU Tangsel) tertanggal 17 Oktober 2017 dengan nomor 610/3367-SDA yang ditanda tangani oleh Retno Prawati, Kepala Dinas Bina Marga Sumber Daya Air dan Pekerjaan Umum (DBM SDA- PU) Tangsel Tentang Pelaksanaan Normalisasi dan Penataan Sungai Jaletreng Tahun 2017.

Alhasil pada hari Jumat (20/10/2017) bertempat di kios milik Sutiyanto, Ketua paguyuban pedagang tanaman hias Taman Kota 2 dengan didampingi Dono sebagai Wakil Ketua, Tb. Ardhiansyah M., selaku Pembina, serta para pedagang lainnya, telah berlangsung pertemuan musyawarah dengan Kepala  Bidang (Kabid) Dinas Bina Marga Sumber Daya Air  (DBMSDA) Tangsel, Ade Suprizal yang didampingi Ahmad Fathul selaku bawahannya yang menjabat sebagai PPTK.

Dalam kesempatan musyawarah tersebut, Ade S, yang terlambat hadir, seolah-olah sudah memahami apa yang sudah dibahas sebelumnya. Bahwa saat ditunjukannya Surat tertanggal 17 Oktober 2017 tersebut.

"Oh ini masalah nomenklatur redaksi aja, intinya seperti itu pak, bukan langsung ini kosong, inti sebenarnya kami butuh parkir, itu suratnya Pak Fathul aja, kita clear dulu aja ya, ngga, ngga ada maksud pengosongan lahan atau penggusuran, intinya kami butuh parkir," katanya.

Dari pantauan awak media sendiri, karena pada waktu itu terlalu mepet dengan jadwal Sholat Jumat, hasil akhirnya untuk sementara menolak jika semua para penunggu kavling yang ada dideretan sebelah kiri pintu masuk di minta untuk mengosongkan dan disuruh pindah menjadi satu dengan deretan kavling sebelah kanan pintu masuk.

Pada kesempatan itu, Ade juga mengatakan dalam pertemuan selanjutnya akan mempersiapkan semua OPD turut serta dalam musyawarah pada hari Kamis (26/10/2017) pukul 10.00 Wib mendatang.

Pada saat dimintai keterangan oleh media Ade meminta agar warga diharapkan memahami dan tidak memaksakan, yang tidak sepakat  tidak masalah.

"Kami hanya memperbaiki, menata yang baik dan yang ada menjadi lebih baik lagi, supaya rapi dan area parkir, jika tidak sepakat tidak menjadi masalah," tegas Ade

Sementara itu Tb. Ardhiansyah selaku Pembina para pedagang tersebut mengatakan tupoksi PU terlalu meluas, pasalnya surat yang di layangkan kepada paguyuban sangat berbeda dengan isinya.

"Pada Ketentuan pasal 13 UU No 32 tahun 2004 di jelaskan tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan penyediaan sarana berupa fasos—fasum dan prasarana umum oleh para Pemegang Ijin Penunjukan Tanah (IPPT). Dalam regulasi tersebut setiap pengembang wajib menyediakan 40% dari total lahan miliknya diperuntukkan bagi fasos dan fasum berupa jalur hijau. Saya sarankan dinas PU berhati-hati dalam membuat kegiatan, secara formal surat itu sebagai bentuk kegiatan resmi, di katakan dalam surat agenda kedatangan dinas PU hanya membahas normasilisasi sungai atau revitalisasi hulu sungai jaletreng, tetapi ketika datang malah membahas lahan parkir," ucap Tb. Ardhiansyah yang biasa di panggil Adhit.

Adhit juga menambahkan bahwasanya agenda surat tersebut jelas, dinas PU bermaksud menggusur para pedagang tanaman hias

"Intinya, warga keberatan dengan alasan potensi lahan yang lain bisa dipakai lahan parkir. Karena jelas maksud tersebut garis besarnya menggusur. Semestinya Dinas PU membawa bukti peta lalu juga kepemilikan asset, lalu setelah itu mari kita duduk bareng, kami sangat terbuka, ini kondisinya meminimalisasikan tempat para petani tanaman hias mencari nafkah, saya harap Pemkot Tangsel bijak menyikapi permasalahan ini, mereka terombang ambing pasca terlepas dari management BSD pada 2014 lalu, " tambah Adhit.

Hal senada juga di utarakan oleh Ketua Paguyuban Pedagang Tanama Hias Taman Kota 2 BSD yang memang juga tinggal di BSD

"Sejarah Pasar tanaman hias ini berawal sebuah lahan kosong hutan pohon karet dari konsep BSD sebagai Kota Mandiri, kota dimana kebutuhan masyarakatnya itu bisa dipenuhi dari dalam kota itu sendiri. Kami dari pedagang salah satunya ya itu untuk memenuhi kebutuhan tanaman hias yang pada awalnya dibentuk di depan area pasar modern Jalan Letnan Sutopo Kelurahan Rawa Buntu Serpong, kemudian tahun 2004 an dipindahkan di depan Ocean Park BSD jalan dan akhirnya tahun 2006 dipindahkan lagi disini dan disebutkan sebagai alternatif terakhir," jelas Yanto

Yanto juga menambahkan bahwa sebelumnya juga ada pertemuan dengan lintas OPD yang di pimpin langsung oleh Asisten daerah (Asda) terkait maksud yang sama.

"Pemerintah daerah berencana mau membangun sebuah Gelanggang Budaya. Kemudian BSD mau berdialog dan memfasilitasi pertemuan disini dengan mengundang antara lain, pedagang tanaman hias, Asda 2, Kadis Tata Kota, Dinas pertanian, Camat setempat, dan lain-lain. Dan hasilnya waktu itu Asda 2 garis besarnya mengatakan tentang keberadaan pedagang tetap disini, dan konsekuensinya akan terganggu dengan hilir mudik kendaraan proyek. Dan menugaskan Dinas pertanian untuk mengurus penerbitan Retribusi, sekaligus sebagai pernyataan keberadaan kami sah, dan mendorong PAD Tangsel," terang Yanto

Ketika di tanya jumlah pengurus paguyuban Tanaman hias, Yanto menjawab bahwa anggota Paguyuban Pedagang Tanamsn Hias Taman Kota 2 BSD saat ini berjumlah 45 orang dengan jumlah kavling sebanyak 54.

"Pengusaha kecil seperti kami, inilah kontribusi kami kepada negara, khususnya kepada Pemerintah Daerah ya ini peran serta dalam bidang ekonomi karena disinilah rentetetan/roda ekonomi berputar lewat kegiatan Pasar Tanaman Hias ini disamping ada efek pendidikannya, destinasi wisata lokal Tangsel. Kalau ini bisa diharmoniskan seakan-akan ini akan ditiadakan kemudian akan diganti yang baru. Kami yakin dengan jumlah 45 orang dengan jumlah kavling sebanyak 54 kavling akan memberikan kontribusi dalam bentuk retrebusi yang di tetapkan oleh pemda," tutup Yanto. (mi/tb)
Post a Comment