Loading...

BREAKING NEWS

  DESKRIPSI GAMBAR
Modus percintaan di medsos, Napi lapas Bandung tipu 60 jutaan wanita asal Pontianak

Modus percintaan di medsos, Napi lapas Bandung tipu 60 jutaan wanita asal Pontianak



Penyelidikan yang dilakukan oleh tim Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar diperoleh informasi bahwa yang si pelaku berdomisili di Kota Bandung. 


Kalbar- Berkat kerjasama Tim Siber Polda Kalbar dan Polda Jawa Barat, akhirnya terungkap kasus penipuan melalui media sosial yang di lakukan oleh seorang narapidana Rutan Bandung yang mengakibatkan seorang wanita Pontianak mengalami kerugian hingga Rp 60 juta.

Kasus ini yang di awali adanya perkenalan seorang wanita Pontianak berinisal E berkenalan dengan seorang pria berinisial MF melalui Facebook, kemudian keduanya berpacaran melalui media sosial.

Selama berpacaran melalui media sosial Facebook, pelaku MF sering meminta korban berinisial E ini sering uang dengan berbagai modus, namun akhirnya korban menyadari kalau dirinya di peralat oleh tersangka dan melaporkan pada awal bulan Oktober 2020 ke Polda Kalbar.

Direktur Reskrimsus Polda Kalbar Kombes Pol Juda Nusa Putra melalui Kasubdit V Siber Kompol Dudung Setyawan yang mengatakan kasus penipuan dengan modus percintaan ini mulai di tangani oleh Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar ketika korban secara resmi melapor pada awal Oktober 2020

"Kemudian setelah mendapatkan laporan, kita melakukan penyelidikan dan akhirnya terlacak terduga pelaku yang di laporkan berada di kota Bandung Jawa Barat,"ujar Dudung pada Sabtu 17 Oktober 2020.

Dikatakannya lagi, dan kemudian kita berkoordinasi dengan tim Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Barat, lantaran Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar diperoleh informasi bahwa yang si pelaku berdomisili di Kota Bandung. 

"Tidak sampai disitu tim Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar berangkat ke Bandung untuk memastikan keberadaan pelaku, kerjasama tim Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar dan tim Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jabar memperoleh informasi bahwa si pelaku merupakan narapidana yang mendiami salah satu Blok di Rutan yang berada di Kota Bandung."ujar Mantan Kapolsek Pontianak Selatan ini

Dan kemudian melakukan koordinasi dengan pihak Rutan untuk memastikan pelaku dan, ternyata benar adanya bahwa si pelaku yang berinisial MF tersebut melakukan aksi kejahatannya dari dalam Rutan.

Kepada Tribun Pontianak, Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar ini menceritakan modus operandi yang di lakukan narapidana Rutan Bandung berinisial MF ini, yakni kasus penipuan berkedok percintaan yang dialami korban berinisial E.

"Kepada korban, MF mengaku karyawan di sebuah perusahaan pelayaran besar di Singapura, karena sering melakukan chating dan berkomunikasi, akhirnya korban dan pelaku ini pacaran, dan suatu saat pelaku meminjam uang kepada korban dengan dalih untuk mengurus pelaku agar bisa resign dari perusahaa pelayaran tempat pelaku bekerja," ungkap Dudung

Lanjutnya, setelah berhasil mendapatkan uang kepada korban, yang awalnya komunikasi korban dan pelaku masih lancar hingga akhirnya pelaku dan korban sempat berkomunikasi video call sex.

"Setelah korban menyadari video call sex yang di lakukan hal yang salah, korban coba menghindari komunikasi dengan si pelaku dengan kmemblokir semua kontak media sosial dan pesan instan miliknya, hingga si pelaku tidak dapat lagi berinteraksi dengannya," kata Dudung menceritakan kronologi kasus tersebut

Dikatakannya lagi, "ternyata pelaku MF ini sempat merekam aksi video call sex antara pelaku dan korban, dan video tersebut dikirim pelaku kepada salah seorang kerabat saudari E hanya untuk meminta uang kepada si korban.

Akhirnya, merasa tak terima perbuatan MF, korban E melaporkan hal tersebut kepada Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar dan dalam penyelidikan dan keterangan korban si pelaku selalu meminta dikirimkan sejumlah uang dan jika ditotal jumlah nominal yang di kirimkan lebih dari 60 juta rupiah.

" Saat ini, kasus ini masih di lakukan penyelidikan dan penyidikan, dan terkait kasus ini pelaku MF dapat di ancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1 Miliar, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat 1 Jo Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik," pungkasnya. (*)
 

TERHANGAT