Kematian Satu keluarga di perumahan Citra Garden Kalideres masih jadi misteri -->

Breaking news

Live

Baca Kami di Helo

Kematian Satu keluarga di perumahan Citra Garden Kalideres masih jadi misteri

Saturday, 12 November 2022

dok. istimewa [12/11] Berdasarkan pemeriksaan bahwa dari lambung para mayat ini tidak ada makanan.


Jakarta - Dian (40), salah satu dari empat korban yang ditemukan tewas membusuk di sebuah rumah di Kalideres, Jakarta Barat, sempat berkomunikasi dengan perangkat RT serta petugas PLN terkait masalah penunggakan listrik di rumahnya.


Hal itu disampaikan Ketua RT 07 RW 15 Citra Garden 1, Asiung. 

Asiung mengatakan, ia terakhir kali berkomunikasi dengan Dian terkait tagihan listrik PLN beberapa pekan lalu.


Menurut Asiung, keluarga Dian menunggak tagihan listrik sejak bulan Agustus 2022. Ia pun sempat mengingatkan Dian agar segera membayar tagihan, sesuai permintaan petugas PLN.


Lantaran keluarga korban tidak kunjung membayar tagihan, petugas PLN pun menalangi tagihan tersebut.


"Jadi ada program dari PLN, apabila warga yang nunggak, itu ditalangin petugas. Diharapkan, penghuni segera membayar ke petugas atas dana talangan tersebut. Apabila diabaikan, maka akan diputus alirannya, dicabut meterannya," kata Asiung, Jumat (11/11/2022).


Setelahnya, kata Asiung, Dian pun berkomunikasi dengan petugas PLN dan membayarkan dana talangan tersebut.


Namun, pada bulan berikutnya, lagi-lagi keluarga Dian kembali menunggak.


Petugas PLN yang hendak menagih tagihan listrik yang pembayarannya terlambat, justru diberi pesan oleh Dian agar melakukan pemutusan listrik saja.


"Tanggal 4 Oktober dia chat, 'Silahkan bapak putus aliran listrik di rumah saya. Apabila saya ingin melakukan pemasangan baru, nanti saya akan menghubungi bapak' itu chat yang diberikan terakhir kepada petugas PLN," ungkap Asiung.


Kemudian, untuk memastikan kelanjutan layanan listrik di rumah tersebut, petugas kembali menghubungi Dian pada 27 Oktober 2022.


Namun, telepon dan pesan singkat dari petugas itu tak dijawab.


"Tanggal 27 Oktober, petugas melakukan telepon balik tapi sudah ceklist satu, tidak ada berita (kabar) sama sekali," ungkapnya.


Atas keadaan tersebut, pada 9 November 2022, petugas PLN kembali datang untuk melakukan pemutusan meteran. Namun, gerbang rumah terkunci.


"Petugas datang tapi tidak ada respon. Akhirnya petugas pakai tangga naik ke atas dan memutus sambungan listrik dari kabel," ungkap dia.


Saat memanjat kabel tersebut, petugas mencium aroma busuk dari dalam rumah.


Warga pun sudah sepekan terakhir mencium aroma busuk yang sempat dikira bangkai binatang itu.


Akhirnya, pada Kamis (10/11/2022), Asiung beserta staf RT dan warga mendobrak pagar rumah itu.


Mereka melihat jasad Dian dari jendela depan rumah, diiringi bau busuk yang semakin menyengat.


Setelahnya, polisi pun datang dan mendobrak pintu utama. Di dalam rumah, polisi menemukan 4 jenazah keluarga tersebut.


Selain Dian, ada jasad ayahnya Rudyanto Gunawan (71) dan ibunya K. Margaretha Gunawan (58).


Jasad satu lagi diketahui bernama Budyanto Gunawan (69) yang merupakan ipar dari Rudyanto.


Hasil Otopsi

Polisi telah melakukan otopsi terhadap empat jenazah. Hasilnya tak ditemukan tanda bekas penganiayaan atau kekerasan terhadap keempat korban.


Dari hasil otopsi, diduga keempat korban tidak makan beberapa hari sebelum akhirnya tewas.


"Berdasarkan pemeriksaan bahwa dari lambung para mayat ini tidak ada makanan. Jadi bisa diduga berdasarkan pemeriksaan dari dokter, bahwa (korban) ini tidak makan dan minum cukup lama, karena dari otot-ototnya sudah mengecil," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Pasma Royce.


Namun, terkait dugaan korban tewas akibat kelaparan, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.


Pasma mengatakan, dokter forensik RS Bhayangkara Polri masih akan memeriksa organ lainnya.

"Dari dokter RS Bhayangkara Polri akan melakukan pendalaman lagi dengan memeriksa hati dan organ-organ lainnya dari kasus kematian ini. Supaya lebih spesifik mengetahui penyebab kematian ini," pungkas Pasma.


Masih berdasarkan otopsi, ditemukan dugaan bahwa para korban tewas sejak 3 pekan lalu, namun dengan waktu kematian yang berbeda.


"Semuanya di waktu berbeda meninggalnya. Sehingga waktu pembusukan jasad masing-masing berbeda," jelas Pasma. (dw/*)