DESKRIPSI GAMBAR

Breaking News

Tindak Kekerasan Di SDN 13 Pagi Jakarta Timur

Tindak Kekerasan Di SDN 13 Pagi Jakarta Timur



SDN Tempat Tindak Kekerasan
Tindak Kekerasan Di SDN 13 Pagi Jakarta Timur

Jakarta, Media Investigasi
Dugaan tindak kekerasan terjadi di lingkungan SDN 13 Pagi Pisangan Lama, Jakarta-Timur. Akibat hal tersebut, Aldo (10) salah seorang murid kelas 5 menjadi korban oknum guru di sekolahnya. Hingga saat ini, Putra pertama pasangan Evita dan Jono menjadi pemalu atau trauma mengingat apa yang diperlakukan oleh oknum guru yang telah menendang paha kakinya hingga memar. 
Saat di sambangi oleh Evi orang tua murid, guru yang diduga melakukan tindak yang tak terpuji itu membantah dengan alasan khilaf.
Menurut Prio, guru yang diduga itu mengutarakan kepada orang tua Aldo, dia mengatakan anak-anak bercanda dan sulit diarahkan.
Pada saat kejadian itu, murid-murid akan melaksanakan ibadah di Mushollah sekolah. Namun, menurut Prio, anak-anak tidak mengindahkan perintahnya, tutur kepada ibu korban.
Dengan berbagai alasan dihadapan orang tua murid dan kepala Sekolah akhirnya oknum guru itu kali ini mengakuinya.
"Saya minta ma'af kalau saya khilaf dan kita damai secara kekeluargaan," kata Prio, oknum guru yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap murid, Jum'at (31/7/15).
Surat pernyataanpun disepakati oleh pihak sekolah dan orang tua korban kekerasan pada selembar kertas yang ditanda tangani diatas matrai, dengan kesimpulan apabila terulang kembali (tindak kerasan) akan diproses melalui jalur hukum dihadapan kepala sekolah.
" Saya minta surat pernyataan agar kedepannya tindakan kekerasan pada Aldo tidak terulang kembali," Tegas Evi diruang Kepala sekolah. 
Menurut Kepala Sekolah SDN 13, pihaknya terus memberikan masukan atau pengarahan dalam tiap rapat antara guru. Dalam lingkungan sekolah tersebut terdapat 3 sekolah tetapi di pimpin oleh seorang Kepala sekolah.
"Tiap rapat saya beri pengarahan pada guru-guru. Disekolah ini kompleksitasnya tinggi karena tiga sekolah menjadi satu di sini," terang kepala sekolah.
Setelah penandatanganan kesepakatan selesai, kegaduhan terjadi di dalam ruang kepala sekolah. Nada emosi tak terelakan oleh salah seorang guru dengan sigap meminta surat peryataan tersebut yang telah dibuat dan di terima oleh orang tua murid.
Tanpa salam, dia meminta paksa tanpa etika. Sangat disayangkan di lingkungan terhomat tersebut tercoreng oleh oknum guru tempramen di SDN 13. 
"Mana surat peryataan ! Mana surat peryataan, mana… sini ," Pinta dia dengan sangat emosi.
Lalu pihak orang tua murid dipersilahkan meninggalkan sekolah oleh kepala sekolah akibat oknum guru yang salah paham tanpa berbicara santun. (Didi Wijayanto)


Post a Comment