BREAKING NEWS

  DESKRIPSI GAMBAR  
GP Ansor dan PCNU Kabupaten Purwakarta, Sambangi Bupati: Bahas Pengibaran Atribut Ormas Terlarang

GP Ansor dan PCNU Kabupaten Purwakarta, Sambangi Bupati: Bahas Pengibaran Atribut Ormas Terlarang


Purwakarta, (MI)- GP Ansor Kabupaten Purwakarta dan PCNU Purwakarta melakukan audensi kepada pemerintah daerah mengenai masalah pengibaran atribut organisasi terlarang yang di duga dilakukan oleh kelompok terlarang HTI di Masjid Agung Purwakarta pada saat acara  dzikir akbar pada hari Jumat tanggal 26 Juli 2019 kemarin, (29/07).

Hadir dalam acara tersebut Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika  dan wakil Bupati Purwakarta H. Aming serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD)  Kabupaten Purwakarta.

Ketua GP Ansor Purwakarta, Cep Muhamad Mahmud  Mengatakan bahwa Kami bereaksi atas dasar pengibaran bendera terlarang di masjid kebangaan Purwakarta tersebut, "HTI secara konstitusi sudah dibubarkan akan tetapi sel-sel mereka masih hidup dan terus berkembang, dan kami berharap simbul-simbul terlarang itu tidak lagi berkibar di Purwakarta" Ungkapnya.


Katib Syuriah PCNU Purwakarta KH. Anwar Ahmad Nasihin  menyampaikan bahwa pada tanggal 26 juli 2019 di masjid agung Purwakarta telah terbentang bendera tauhid, dan itu merupakan simbol dari HTI sebagai ormas yang sudah jelas dilarang di Indonesia,"Menurut kami bahwa kalimat Tauhid itu harus di tanamkan di hati bukan di kibarkan. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali, sudah pernah di Garut, jangan sampai terjadi hal-hal seperti kemarin terjadi kembali, dan jangan sampai kader-kader kita menghakimi mereka, ini bisa menjadi problem di masa yang akan datang." Jelasnya.

"Kami meminta kepada bupati kita untuk bersama-sama  menolak keras bendera HTI yang terlarang tersebut, kami bukan sok NKRI tpi ini komitmen bersama dan merupakan konsensus bersama yang tidak bisa di tawar kembali, Kami juga meminta kepada pemda untuk bersama-sama GP Ansor untuk menyelesaikan problem mengenai atribut tersebut, dan kami akan terus mengawal hal tersebut." Tegas KH. Anwar Ahmad Nasihin yang juga ketua PW Rijalul Ansor Jawa Barat tersebut.

Dalam audensi tersebut Ketua PCNU Purwakarta, M. Bahir Mukhlis, juga mengungkapkan bahwa "cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman, karena saking wajibnya menjaga NKRI, maka lahirlah subhanol waton, dan NU adalah pendiri negara ini. Bahwa ideologi yang pas bagi bagsa ini adalah pancasila dan negera kita adalah negara konsesus kesepakatan." ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa "Hari ini GP Ansor Purwakarta beserta PCNU  bereaksi itu sangat wajar dan wajib karena ada hal-hal yang tidak kami duga, mereka kalau di kasih peluang semakin berbahaya. Mereka berlindung dibalik kalimat tauhid tersebut. Keinginan dari ansor itu tidak ingin ada bendera yang terlarang itu berkibar di bumi Indonesia khususnya di Purwakarta yang ada hanya merah putih." 

"Kami keluarga besar NU Menolak kehadiran HTI yang sudah jelas sudah di bubarkan oleh pemerintah". Tegas ketua PCNU Purwakarta tersebut.

Bupati Purwakarta Anne Ratna mustika menangapi hal tersebut " Kami berharap dari segi pendidikan akan terus mensosialisikan bahwa pemerintah daerah melalui dunia pendidikan akan membekali para siswa dari tingkat SD sampai Perguruan tinggi tentang bahaya ikut organisasi terlalarang tersebut". Ungkapnya.

Dari sisi perangkat daerah di jajarannya, pihaknya tidak akan mengakomodir mereka yang beafeliasi dengan HTI atau organisasi terlarang, jika terjadi maka kami tidak akan mengakomodir.

Menurutnya Kejadian yang kemarin itu sudah berkordinasi dengan pihak kepolisian untuk menindak lajuti masalah kemarin mengenai pelangaran hukum yang terkait." Kami sangat menyangankan atas tindakan kemarin, karena ada pembentangan bendera yang dilarang yang mencidrai sehingga menimbulkan problem di masyarkat, khususnya pihak NU dan Kami sangat prihatin karena memanfaatkan acara yang baik tersebut untuk mengibarkan atribut yang dilarang". Tutupnya. (Dd)