Ticker

6/recent/ticker-posts

Kak Seto: Jadi Gelandangan hingga kuli bangunan




"Kemudian jadi tukang batu kuli pasar, otot-otot ini luar biasa ngangkat 50 kilo ke atas. Terus tujuh tahun saya jadi pembantu rumah tangga yang kerja dari setengah lima sampai jam 11 malem".


Jakarta - Sosok psikolog anak Kak Seto kerap menjadi perbincangan lantaran fisiknya yang awet muda hingga rambutnya yang kaku. Di sisi lain, dalam menjalani kehidupan, Kak Seto kerap menemui lika-liku.

Bahkan dia mengaku pernah merasakan menjadi gelandang dan pemulung selama tujuh bulan. Hal itu diakui Kak Seto saat menjadi bintang tamu Deddy Corner, Trans TV.

"Saya kan pernah tujuh bulan jadi gelandang, jadi pemulung, di sampah tidur di tujuh bulan itu tidur di emperan tempat sampah pasar. Ya tujuh bulan," kata Kak Seto, dilansir detikcom.

Kemudian dia juga pernah menjadi kuli panggul di pasar yang kerap mengangkat beban lebih dari 50 kilo. Bahkan Kak Seto pernah menjadi pembantu rumah tangga.

"Kemudian jadi tukang batu kuli pasar, otot-otot ini luar biasa ngangkat 50 kilo ke atas. Terus tujuh tahun saya jadi pembantu rumah tangga yang kerja dari setengah lima sampai jam 11 malem," ungkapnya.

Meski demikian Kak Seto berusaha bersyukur dengan pekerjaannya. Sehingga hal itu tak menjadi beban di dalam hidupnya saat itu.

"Tapi ya itu saya merasa hati yang penuh rasa sukur selalu berpikir positif, selalu senyum, itu yang akhirnya apa ya membuat nggak ada beban gitu loh," katanya.

Di sisi lain Kak Seto juga menguak mengapa dirinya menjadi seperti itu. Hal itu lantaran dirinya malu lantaran berkali-kali ditolak di universitas kedokteran.

Memang ketika itu saudara kembar Seto diterima di universitas kedokteran favorit. Namun sialnya ia tak pernah masuk universitas kedokteran.

"Ya saya lulus SMA kan saya gara-gara kembar, kan. Saudara saya diterima di kedokteran, saya nggak. Dari kecil kan selalu kalau nggak dokter, kan insinyur, kakak saya yang nomor satu insinyur. Kita masuk ke kedokteran dia diterima, saya nggak di universitas Airlangga Surabaya," bebernya.

"Aduh saya down sekali. Saya coba masuk fakultas kedokteran UI, UNDIP, dan UGM nggak diterima juga. Akhirnya sampai malu karana dibandingkan sama si kembar, kan ya," imbuhnya.

Sehingga saat itu Kak Seto nekat minggat ke Jakarta. Tanpa ada teman atau saudara di Jakarta.

"Akhirnya saya minggat dari rumah, saya ke Jakarta saya pikir gampang cari kerjaan di Jakarta. Nggak punya teman, nggak punya saudara, ya sudah akhirnya menggelandang selama sekitar 7 bulan," pungkasnya.

Post a comment

0 Comments