Subsidi pupuk 10 tahun sudah Rp330 triliun, Presiden: Ini ada yang salah

Breaking news

News
Loading...

mgid

Subsidi pupuk 10 tahun sudah Rp330 triliun, Presiden: Ini ada yang salah

: Tim Media-INVESTIGASI.COM
Monday, 11 January 2021


Poto: Presiden Jokowi, penyerahan 584.407 lembar sertifikat hak atas tanah kepada para penerima di 26 provinsi dan 273 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Acara ini dihadiri langsung 30 orang perwakilan penerima sertifikat.


Jokowi menilai pemberian subsidi pupuk yang besar setiap tahun tersebut tidak diikuti dengan peningkatan dari sisi produksi. 


Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkritisi aliran dana subsidi pupuk ke sektor pertanian. Ia mengatakan anggaran subsidi pupuk tiap tahunnya mencapai sekitar Rp33 triliun.

Oleh sebab itu, Kepala Negara pun 'menagih' imbal balik dari pemberian subsidi jumbo tersebut.

"Pupuk, saya jadi ingat pupuk, berapa tahun kita subsidi pupuk? Setahun berapa subsidi pupuk Rp30 triliun-an, berapa Bu Menkeu (Menteri Keuangan Sri Mulyani), Rp33 triliun seingat saya. Rp33 triliun setiap tahun, return-nya apa? Kami beri subsidi pupuk itu kembaliannya ke kami apa? Apakah produksi melompat naik? Rp33 triliun, saya tanya kembaliannya apa?," ujarnya dalam pembukaan Rakernas Pembangunan Pertanian 2021 secara virtual, Senin (11/1).

Jokowi menilai pemberian subsidi pupuk yang besar setiap tahun tersebut tidak diikuti dengan peningkatan dari sisi produksi. Karenanya, ia meminta semua jajarannya untuk mengevaluasi pemberian subsidi pupuk tersebut, dilansir CNN Indonesia.

"10 tahun sudah Rp330 triliun, bapak, ibu, saudara, dan saudari angka itu besar sekali. Artinya tolong ini dievaluasi, ini ada yang salah. Saya sudah berkali-kali minta," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi sempat mengapresiasi pertumbuhan kinerja ekspor sektor pertanian. Namun, mantan Wali Kota Solo itu juga memperingatkan jika kenaikan ekspor didorong oleh komoditas sawit, bukan berasal dari komoditas yang mendapatkan subsidi pupuk setiap tahunnya.

"Tapi juga ingat, ekspor kelihatan tinggi itu berasal dari yang banyak, berasal dari sawit, betul Pak Menko? Hati-hati bukan dari tadi, bukan dari komoditas lain yang sudah kami suntik dengan subsidi yang ada," katanya.