Duh, Nelayan Sembilan hari terombang-ambing di tengah laut terdampar di pantai Pangandaran

Breaking news

News
Loading...

mgid

adsense

Duh, Nelayan Sembilan hari terombang-ambing di tengah laut terdampar di pantai Pangandaran

: Tim Media-INVESTIGASI.COM
Monday, 5 July 2021

Dok. ilustrasi (ist)


Selama terombang-ambing Dia mengaku sempat bertemu perahu nelayan lain dan sempat ngobrol, namun ketika dilihat lagi menghilang.


Pangandaran - Seorang nelayan asal Banyuwangi, Jawa Timur ditemukan terombang-ambing di perairan Kabupaten Pangandaran Jawa Barat, Sabtu (3/7/2021). Nelayan bernama Asmuni itu ditemukan dalam keadaan lemah karena selama 9 hari dirinya terombang-ambing di lautan lepas.


"Jadi nelayan itu ditemukan oleh anggota kami yang sedang memancing di perairan sekitar 5 mil dari pulau Nusakambangan," kata Sakio, Ketua SAR Baracuda Pangandaran, Minggu (4/7/2021).


Saat ditemukan, Asmuni seorang diri di atas perahu kecil berukuran lebar 1 meter panjang 7 meter atau nelayan menyebutnya perahu pinggiran.


Sakio mengatakan setelah ditemukan, Asmuni langsung dievakuasi dan didaratkan di pelabuhan ikan Cikidang Desa Babakan Pangandaran.


"Kondisinya lemah, tidak makan 9 hari. Luar biasa masih bisa bertahan," kata Sakio.


Dia bahkan mengalami shock, sehingga dirawat di rumah salah seorang nelayan. Dia menolak menemui orang lain. "Kondisinya sudah membaik. Sudah diurut, sudah makan dan tidur. Tapi dia belum bisa ditemui," kata Sakio.


Menurut Sakio, Asmuni mengalami trauma dan emosional karena keluarganya kebingungan untuk menjemput. Mengingat butuh biaya tak sedikit untuk menjemput dari Banyuwangi ke Pangandaran.


"Ibaratnya 'baluweng', banyak yang nanya dan memikirkan caranya pulang, jadi dia belum bisa ditemui. Padahal untuk memulangkan kami sudah koordinasi dengan SAR dan pemerintah di Banyuwangi, sudah persiapan mau menjemput ke sini," kata Sakio.


Sakio menambahkan Asmuni saat melaut mengalami gagal navigasi atau tersesat arah. Niat kembali ke daratan namun salah arah karena diadang badai. Sehingga akhirnya kehabisan bahan bakar, lalu perahunya terombang-ambing terbawa angin dan arus laut.


"Sekarang kan sedang musim angin timur, jadi terbawa sampai ke sini," kata Sakio.


Selama itu dia memilih bertahan di atas perahu kecilnya. Tanpa membawa bekal makanan dan pelampung, dia pasrah mengikuti kemana arus laut membawanya. Satu-satunya barang yang ada di perahu dan bisa dimakan adalah pasta gigi.


"Dia hanya makan odol dicampur air laut, karena yang ada di perahu cuma itu. Dia bilang itu cukup membantu menghangatkan perutnya," kata Sakio.


Di hari nahas itu, kebetulan Asmuni memang tak membawa bekal makanan untuk melaut. Sedianya dia hendak membawa bekal di rumah anaknya, tapi anaknya tak ada di rumah, sehingga dia pun memaksakan melaut walau tak membawa bekal makanan dan BBM yang cukup.


"Dia kan nelayan pancing perahunya juga kecil, jadi niatnya hanya sebentar melaut di perairan sekitar Jimbaran, tapi malah terdampar di sini ," kata Sakio.


Melewati 9 hari di lautan lepas terombang-ambing, Asmuni mengaku sempat mengalami halusinasi. "Jadi dia mengaku sempat bertemu perahu nelayan lain dan sempat ngobrol, namun ketika dilihat lagi menghilang," kata Sakio. (rs/dt)