Energi Spiritual Demi Bangsa dan Negara Indonesia -->

Advertisement

Breaking news

News
Loading...

Energi Spiritual Demi Bangsa dan Negara Indonesia

: Tim Media-INVESTIGASI.COM
Sunday, 5 September 2021

Catatan Jacob Ereste dari Safari GMRI (2 habis) :


Sultan Saladin & Eko Sriyanto Galgendu Ketua Umum GMRI Menyatukan Energi Spiritual Demi Bangsa & Negara Indonesia, (3/9).


Pemalang - Dalam melakoni spiritual, seperti penuturan Sultan Saladin, bahwa getaran rasa itu menjadi semacam pemimpin logika, feling atau untuk semua tata kerja pada proses kerja dari semua panca indra setiap orang untuk melahirkan produk kerja yang mau dikeluarkan kemudian. Karena itu, semua proses kerja dari pencercapan yang diproses oleh panca indra akan selalu tunduk dan patuh pada vibrasi yang terkirim dari hati yang utuh dalam mengatur komposisi untuk menu suguhan yang hendak dikemas menjadi sajian yang siap dikonsumsi baik untuk diri sendiri maupun yang bisa dijadikan kknsumsi bagi orang lain dalam wujud nilai-nilai spiritual.


Adapun nilai-nilai spiritual yang dimaksud adalah segenap tuntunan dari agama yang diyakini baik serta dapat memberi manfaat bagi diri srmendiri dan yang ideal juga memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, nakna dari rachmatan lil alamin sebagai keyakinan dalam Islam harus bijak dipahami bagwa hakikat dari kehadiran Islam adalah untuk keselamatan dan kesejahteraan bagi semua makluk hidup dan alam jagat raya dengan segenap tata surya berikut planet yang ada, agar harmoni dan selaras, baik bagi sesamanya serta dengan semua makhluk hidup lainnya termasuk tumbuh-tumbuhan yang ada planet manapun.


Jadi memang bukan sebaliknya, karena logika tak tak cukup memiliki kemampuan untuk memimpin getaran hati dalam laku spiritual. Yang menarik,  keyakinan Sultan Saladin pun begitu. Seperti dia ungkapkan saat dialog santai bersama Eko Sriyanto Galgendu di Coffe Asep Cirebon pada 2 September 202, dalam rangkaian acara safari Tim GMRI di seluru Jawa.


Karena menurut Sultan Saladin, getaran rasa yang sejati itu muncul dari ketulusan, kejujuran, keikhlasan serta adat istiadat dan etika yang terhimpun dalam  moralitas seperti laku spiritual setara Dewanya pelaku spiritual seperti Eko Sriyanto Galgendu memang tak lagi mencari, tetapi sudah harus menemukan. Dan apa yang akan ditemukan oleh GMRI diantaranya adalah sosok kepemimpinan spiritual sesuai dengan bidang atau pilihan hidupnya masing-masing.


Jadi takaran kesadaran pemahaman dan pendalaman laku spiritual seperti Mas Eko Sriyanto Gslgendu kata Sultan Kanoman Saladin selaku penerus trah Sultan Syarif Hidayatullah atau yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, dia melihat eksistensi sosok seorang Eko Sriyanto Galgendu memang sudah seklas Dewa-dewa  pelaku spiritual.


Sultan Saladin dan Eko Sriyanto Galgendu dalam pertemuan itu sempat bernostalgia semasa 20 tahun silam, seperti saat menangani masalah Teluk Banoa.


Eko Sriyanto Galgendu pun yang mengamini bahwa getaran bisikan hati itu merupakan titik pusat kendali dari laku spiritual bagi setiap orang yang melakoni spiritual dengan serius, pun mengagumi sikap perkawanan antara mereka yang telah terjalin sejak 20 tahun silam itu, seperti kebersamaan dalam upaya menyelesaikan masalah di Teluk Banoa beberapa tahun silam. Jadi pilihan sikap dari Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI)  menentukan etape  utama dari leluhur Kerajaan Cirebon sebagai titik awal dimulainya safari keliling Jawa, bukan karena kebetulan, karena Eko Sriyanto Galgendu pun melakukannya berdasarkan petunjuk, termasuk ziarah ke pemakaman para leluhur  Sunan Gunung Jati yang memiliki kekuatan spiritual yang sangat luar biasa itu.


Artinya, dengan kata lain, kecuali berharap untuk memperoleh restu dan petunjuk dari para leluhur pengayom jagat Jawa Barat, sementara Eko Sriyanto Gangendu sendiri bisa disebut mewakili trah Matatam (Jawa Tengah) yang terbilang telatif dipercaya oleh  Susuhunan Paku Buwono XII. Bukti nyata kedekatan itu seperti adanya surat wasiat resmi tercatat dalam akte notaris yang dipegangnya.


Program GMRI ingin membangun kebangkitan kesadaran spiritual, kata Eko Sriyanto Galgendu  akan terus menyambangi semua simpul yang ada -- atau yang baru dibuat serta seperti kelompok yang masih berproses untuk bersatu bersama Tim GMRI.


Begitulah tatanan teknis langkah strategis GMRI ingin membangun kebersamaan dari segenap relawan yang tertarik dan berminat ikut membangun gaurah kesadaran spiritual sebagai  bekal pertahanan dan ketahanan budaya dalam arti menyeluruh dan meliputi segenap aspek kehidupan untuk menghadapi

kerumitan hidup dan penghidupan hari ini dan esok.


Kekuatan spiritual yang khas warga bangsa Indonesia dalam beragam dimensi agama, suku bangsa dan latar belakang serta adat istiadat maupun tradisi. Dan sifat terbuka dari GRMI sendiri menjadi dasar dari kesepakatan -- komitmen-- diri dengan diri sendiri. Dimensi dari nilai-nilai spiritual menjadi kesadaran dari masing-masing untuk  membangun dan menghadirkan nuansa religius tanpa beban apapun kecuali berlandaskan pada kedalaman  pemahanan spiritual pribadi. Hingga pengertian dan pemahanan tentang Tuhan pun  berada dalam kedalaman kesadaran dalam diri sendiri yang mampu dan dapat memberi manfaat bagi semua orang.


Jadi inti pokok dari laku spiritual, seperti kata Sultan Saladin, semua penganut agama yang baik dan benar itu pasti jelas memiliki laku spiritual atas dasar keimanan menurut agama yang dianut dan diyakini. Karena sejatinya laku spiritual itu ada pada getaran rasa yang terdalam dari kedalam lubuk hati tanpa pamrih apapun.


Dalam konsepsi serupa ini jelas sangat relevan dengan apa yang dimaksud dari makna yang terkandung dari arti lilla hi taala, yang memiliki pijakan pada semua bentuk apa ibadah bagi manusia kepada Yang Maha Pencipta,Yang Maha Pengasih serta Yang Maha Penyayang seperti yang dimaknai oleh Pancasila yang disebut Ketuhanan Yang Maha Esa itu. Begitulah !  (rs/*)