Waduh, Refly Harun disebut Doktor Kok Rabun? -->

Breaking news

News
Loading...

Waduh, Refly Harun disebut Doktor Kok Rabun?

Thursday, 30 December 2021

Ruhut Sitompul meminta Refly Harun untuk tidak melihat masalah pembubaran FPI dengan kacamata kuda, dok. istimewa (30/12).


Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ruhut Sitompul blak-blakan sentil Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun.


Hal tersebut diungkapkan Ruhut Sitompul melalui cuitan di akun Twitter pribadinya, Selasa (28/12/2021).


Sebelumnya, Refly Harun mengatakan pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD terkait pembubaran Front Pembela Islam (FPI) ngawur.


Refly Harun juga menanyakan bukti kekerasan yang pernah dilakukan FPI.


Merespons hal tersebut, Ruhut Sitompul meminta Refly Harun untuk tidak melihat masalah pembubaran FPI dengan kacamata kuda.


Ruhut Sitompul bahkan menyebut Refly Harun rabun dengan masalah pembubaran FPI, lantaran sakit hati dengan pemerintahan Jokowi karena didepak dari Komisaris Utama BUMN.


"Hey RH, jangan kau pakai kaca mata kuda menanyakan kekerasan mana, hahaha. Doktor kok rabun, karena dipecat beberapa kali dari Komut BUMN yang gatot alias gagal total kasihan deh," jelas Ruhut Sitompul dikutip GenPI.co, Rabu (29/12).


Seperti diketahui, Refly Harun menilai pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD terkait pembubaran FPI sangat ngawur.


"Kalau melakukan kekerasan, kekerasan mana yang kemudian membuat dia harus dibubarkan, yang dibuktikan dalam proses peradilan misalnya. Atau paling tidak ditunjuk kekerasan mana," jelas Refly Harun dalam tayangan di kanal YouTube Refly Harun.


Menurut Refly Harun, pernyataan Mahfud MD itu sama sekali tidak berdasar, sebab sampai sekarang pemerintah bahkan tak bisa menunjukkan bukti kekerasan yang dilakukan FPI.


Refly Harun pun membeberkan, pembubaran ormas ini karena didasari pada ketidaksukaan pemerintah saja.


Baca Juga: Ruhut Kembali Menyahut, Yan Harahap Beri Respons: Teruskan Upaya ‘Menjilatmu’ dengan Teknik Baru


"Kan ini tidak terbukti semua, tidak ada semua. Yang jelas ada perasaan tidak suka dan ada eskalasi tergelombang karena kepulangan HRS," beber Refly Harun.


"Setelah itu ada masalah terbunuhnya 6 laskar FPI, dan diikuti dengan pembubaran FPI. Jadi, bisa jadi pembubaran itu untuk mencegah eskalasi karena peristiwa pembunuhan dan penangkapan Habib Rizieq. Itu mungkin, itu analisisnya," imbuhnya.(dw/*)