Gak main-main korban jebakan tikus 23 orang meninggal, Mentan turun tangan

Breaking news

Live
Loading...

Gak main-main korban jebakan tikus 23 orang meninggal, Mentan turun tangan

Tuesday 11 January 2022

dok. ilustrasi/ist


Salah satunya membuat aliran listrik itu dari AC ke DC, sehingga tidak akan membunuh manusia, (11/1).


Sragen - Sebanyak 23 orang meninggal akibat jebakan tikus beraliran listrik tegangan tinggi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sejak 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengusulkan ide pembuatan jebakan beraliran listrik yang tidak berbahaya namun efektif mengusir hama tikus.


"Intinya jangan ada lagi rakyat jadi korban gara-gara menghalau hama tikus yang ada. Hama tikus harus dihalau tapi kita bisa gunakan cara-cara baru yang tidak mengorbankan rakyat," kata Syahrul di sela kunjungannya ke Sragen, Senin (10/1/2022).


Syahrul mengaku sudah berkomunikasi dengan Direktur PLN untuk mencari solusi bersama terkait permasalahan jebakan listrik ini. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini memiliki ide untuk membuat jalan tengah yang tidak hanya mengusir hama tikus tapi namun melindungi keselamatan petani.


"Salah satunya membuat aliran listrik itu dari AC ke DC, sehingga tidak akan membunuh manusia. Ini lagi kita rancang bersama-sama," cetusnya.


Syahrul menambahkan, pihaknya siap membantu bupati agar cepat menyelesaikan permasalahan jebakan listik ini. Dia menargetkan permasalahan ini tuntas dalam sebulan. "Kami sepakat satu bulan ini sudah selesai masalah ini," terang Syahrul.


Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyambut baik ide dari Menteri Pertanian itu. Pihaknya akan membuat konsep untuk merealisasikan usulan tersebut.


"Saya tadi sudah bicarakan dengan Pak Kapolres dengan Pak Menteri sebagai fasilitator, juga dengan PLN. Ide itu baru datang dari Pak Menteri, misalnya aliran (jebakan listrik) itu dari AC ke DC. Sehingga aliran itu bisa mematikan tikus tapi tidak mematikan manusia," kata Yuni, sapaan akrabnya.


"Apakah ini nanti harus kita atur aliran listriknya atau waktunya, atau bagaimana, kita belum bikin konsep itu," imbuhnya.


Yuni menyebut, pihaknya memerlukan waktu untuk membuat rancangan itu, termasuk rencana menggandeng DPRD Sragen untuk membuat peraturannya (perda). "Mudah-mudahan nanti ada perdanya juga sehingga bisa menguatkan," pungkasnya.(dw/*)