Kolasi Perubahan Jelang Pilpres 2024, Demokrat Tak Ingin Berspekulasi -->

Breaking news

Live
Loading...

Kolasi Perubahan Jelang Pilpres 2024, Demokrat Tak Ingin Berspekulasi

Monday, 5 December 2022

dok. istimewa (5/12/2022) Jika PKS dan Gerindra sekadar melakukan komunikasi politik, hal itu sah-sah saja.


Jakarta - PKS membuka peluang rujuk berkoalisi dengan Partai Gerindra di tengah wacana pembentukan 'Koalisi Perubahan' bersama Partai NasDem dan Partai Demokrat. Partai Demokrat tak ingin berspekulasi lebih jauh terkait wacana ini.


"Kami tak ingin berspekulasi dan menanggapi lebih jauh terkait wacana ini," kata Deputi Bappilu Partai Demokrat Kamhar Lakumani, Senin (6/12/2022).


Kamhar mengatakan jika PKS dan Gerindra sekadar melakukan komunikasi politik, hal itu sah-sah saja. Menurutnya, penting bagi parpol untuk menjaga komunikasi politik lintas partai.


"Jika sekadar komunikasi politik, hemat kami itu sah-sah aja dan memang mesti dibangun dan dijaga mengingat politik itu senantiasa dinamis dan proyeksi pembentukan koalisi sangat mungkin terjadi beberapa tahap," katanya.


"Yang sudah-sudah seperti pembentukan koalisi tahap awal untuk pilpres putaran pertama, jika terjadi dua putaran maka ada rekonfigurasi koalisi, demikian pula pasca pilpres dalam penyusunan pemerintahan yang baru sering pula terjadi rekonfigurasi koalisi lagi. Jadi menjaga komunikasi politik lintas partai senantiasa penting dan relevan," imbuhnya.


Namun, dia menyebut ketiga parpol calon penggagas 'Koalisi Perubahan' menjalin komunikasi yang paling intens. Menurutnya, pemilihan waktu deklarasi koalisi hanya tinggal menunggu momentum.


"Namun untuk saat ini, komunikasi politik yang paling intens dan berkemajuan adalah PKS, Demokrat dan NasDem. Tinggal menyesuaikan dan menunggu pengambilan keputusan sesuai dengan mekanisme internal partai masing-masing sebelum dideklarasikan," katanya.


Wacana Rujuk Koalisi Gerindra-PKS
Wacana Partai Gerindra dan PKS kembali dalam satu koalisi jelang Pilpres 2024 kembali mencuat. Wacana bersatunya PKS dan Gerindra di tengah wacana 'Koalisi Perubahan' yang digagas bareng Partai NasDem dan Partai Demokrat tak kunjung deklarasi.


Gagasan rujuknya Gerindra dan PKS jelang Pilpres 2024 usai keduanya beda jalan Pasca-pilpres 2019. Gerindra masuk pemerintah Presiden Jokowi, sedangkan PKS tetap beroposisi dengan pemerintahan Jokowi.


Wacana rujuk ini berangkat dari pernyataan Waketum Partai Gerindra Fadli Zon usai acara pengukuhan Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menjadi guru besar di Sentul, Bogor. Saat itu, Fadli Zon menjelaskan dirinya yang akrab dengan Sekjen PKS Aboe Bakar Al-Habsyi.


"Dari dulu juga akrab, pertanyaannya mudah-mudahan kita bisa bergabung lagi bersama-sama, semua masih cair lah maksudnya masih belum bisa kita menentukan sampai mendekati waktu tenggatnya," kata Fadli Zon di Bogor, Kamis (1/12) lalu.


Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad juga bicara terkait peluang kans koalisi Gerindra dan PKS yang dibicarakan Fadli Zon. Dasco menganggap rencana tersebut sebagai bagian dari dinamika politik menjelang 2024.


"Ya kan itu ditanya kepada Pak Fadli tentang kemungkinan-kemungkinan koalisi. Kan Pak Fadli secara normatif menjawab bahwa kemungkinan itu semua terbuka. Bahwa kemudian ada pro dan kontra terhadap koalisi Gerindra dan PKS, ya, itu dinamika yang terjadi dan kita anggap biasa aja dalam dinamika politik ini," kata Dasco kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/12).


Dasco pun menganggap rencana koalisi itu sebagai bumbu dalam pesta demokrasi. "Sehingga yang disampaikan dan apa yang terjadi kita anggap ya sebagai bumbu-bumbu daripada pesta demokrasi kita," ujar dia. (dw/*)