Meski sudah berangkat Empat kali kerja jadi PMI, Yani nyaris jadi korban TPPO -->

Breaking news

Live
Loading...

Meski sudah berangkat Empat kali kerja jadi PMI, Yani nyaris jadi korban TPPO

Thursday 28 December 2023

Polisi dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) berhasil mengendus aktivitas agen ilegal yang membawa Yani. Dok. Istimewa  (28/12).


Kabupaten Bandung - Yani (41), wanita asal Kampung Cibanghoak, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung nyaris menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Dirinya hampir pergi ke Qatar melalui agen ilegal.


Polisi dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) berhasil mengendus aktivitas agen ilegal yang membawa Yani. Kala itu, Yani hendak diberangkatkan ke Qatar bersama rekannya asal Purwarkata oleh agen ilegal di Bandara I Gusti Ngurai Bali. Namun, polisi dan BP2MI berhasil menggagalkannya. Pelaku pun langsung diamankan petugas gabungan.


Yani mengatakan peristiwa tersebut bermula saat dirinya ditawari kerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di Qatar, 26 Juni 2023 lalu. Dirinya ditawari kerja oleh salah seorang agen.


"Awalnya saya ditawarin kerja ke Qatar. Terus ditawarin uang fit Rp 15 juta. Karena perekonomian, ya saya tertarik dan tergiur. Saya nggak ngeluarin seperserpun ke dia. Cuma dijanjiin kerja di Qatar sebagai ART dengan gaji minimal 1.500 Riyal Qatar (Rp 6,3 juta) satu bulannya," ujar Yani, kepada awak media di, Kecamatan Kertasari, Rabu (27/12/2023).


Selang beberapa hari setelah Yani mengamini ajakan agen ilegal itu, kemudian Yani dijemput. Setelah Yani, agen ilegal itu menjemput korban lainnya asal Purwakarta.


"Terus bermalam di Jakarta. Kemudian sekitar jam 12 malam pergi ke Bali pakai jalur darat. Nyampai di Bali pagi-pagi. Terus jam 11 siang rencananya mau berangkat atau boarding ke Qatar," katanya.


Saat berjalan kaki menuju ke pesawat, dirinya langsung dicegat oleh Polisi dan petugas BP2MI di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Kemudian agen yang membawanya langsung diamankan polisi.


"Ya kami kaget aja. Karena sebelumnya yang saya tahu ya resmi aja. Soalnya tujuan saya mau kerja, tiba-tiba kok begini. Saya dikasih tahu sama polisi di Bali bahwa itu adalah ilegal. Jadi saya dan teman saya katanya mau dijual perdagangan manusia. Di situ saya gemetar sampai nangis dan mau pingsan. Tapi pak polisi di sana menenangkan saya," jelasnya.


Yani mengungkapkan selain diiming-iming gaji, yang paling utama adalah akan diberikan uang fit atau uang kesehatan. Jadi, jika hasil tes medical check sehat, calon PMI tersebut akan mendapatkan uang.


"Ya diimingnya kalau hasilnya fit, akan dikasih uang Rp 15 juta. Jadi uang fit itu kalau saya sehat. Karena saya medicalnya lulus, saya sempat dikasih uang fit. Dikasihnya pertama Rp 1,5 juta, kedua Rp 3,5 juta, pas mau berangkat ngasih Rp 5 juta. Jadi yang masuk ke saya Rp 10 juta, nggak Rp 15 juta," ucapnya.


Dia mengaku telah menjadi PMI beberapa kali dan bekerja dii beberapa negara di Tumir Tengah. Makanya, dirinya tidak mencurigai aksi agen ilegal tersebut.


"Ya percaya karena saya juga bukan pertama kali. Udah empat kali, sama yang digagalkan kemarin yang ke lima kali. Jadi saya percaya aja. Saya udah pegang paspor sendiri. Jadi lima kali itu agen yang beda. Cuma sponsor dalamnya, saya tahu di dalamnya," tuturnya.


Yani menyebutkan telah menjadi PMI pertama kali ke Jedah, Arab Saudi selama dua tahun, Abwa, Arab Saudi selama dua tahun, di Oman dua tahun lebih, terus di Riyadh, Arab Saudi, paling lama lima tahun enam bulan. Yang terakhir ke lima keburu digagalkan di Bandara.


"Yang empat kali sebelumnya mah resmi. Soalnya syarat-syaratnya banyak. Ada surat izin orang tua, atau izin suami. Kalau ini surat-suratya nggak komplet, cuma diminta paspor doang," bebernya.


Yani menuturkan saat ini masih mengalami trauma. Namun dirinya masih belum berpikiran untuk kembali menjadi PMI di luar negeri.


"Trauma sih gimana yah, pasti ada. Cuma karena memang saya pergi ke sana bukan pertama kali. Saya juga belum tahu akan pergi lagi atau tidak. Soalnya paspor masih ditahan. Jadi bersyukur sekarang keburu ketahuan. Kalau ketahuannya saya saat di sana, duh gak tahu deh nasib saya," ungkapnya.


Yani berpesan ke masyarakat Indonesia supaya lebih teliti lagi jika akan berangkat menjadi PMI di luar negeri. Kemudian kata dia, jangan mudah tergiur dengan iming-iming dari agen.


"Pesan buat teman-teman yang akan berangkat. Ya sekarang mah harus teliti aja, apa persyatannya. Jangan sampai tergiur sama uang fit yang gede, yang diiming-imingi. Jangan sampai ada korban lagi seperti saya," kata Yani.


Sementara itu, Ketua BP2MI Benny Rhamdani mengungkapkan Yani dan rekannya berhasil diselamatkan setelah adanya laporan dari masyarakat. Kemudian para agen tersebut bisa diamankan di bandara tersebut.


"Iya tadi ada pernah kita cegat di bandara. Kita selamatkan dan hampir saja dia dijual dan diperdagangkan ke Qatar," kata Benny.


Benny mengatakan para agen tersebut menawarkan pekerjaan ke masyarakat. Kemudian mereka memberikan iming-iming yang membuat masyarakat tergiur.


"Alasannya tawaran pekerjaan. Tapi ilegal. Sementara Qatar itu negara timur tengah yang dua tahun lalu belum pernah dinyatakan dibuka kembali untuk mengirim pekerja. Berarti penempatannya ilegal," ucap Benny.


Menurutnya aksi pencegahan tersebut dilakukan atas adanya peran masyarakat yang memberikan informasi kepada BP2MI. Sehingga bisa melakukan pencegahan dan penangkapan terhadap agen-agen ilegal.


"Maka kita selalu berpesan jaga kampung masing-masing, jaga masyarakat kita. Karena wilayah terkecil itu kampung atau desa tidak mungkin satu sama lain tidak mengenal. Jadi jika ada satu warga atau tetangga kita didatangi oleh siapapun tidak kenal dan menawarkan pekerjaan. Itu harus cepat diprotect," ungkap Benny.


"Lapor ke kepala desa, lapor ke pak RW, RT setempat. Terus lapor ke polisi, untuk dipastikan yang menawarkan pekerjaan ini calo atau bukan, sindikat atau bukan. Kalau sindikat, tangkap langsung penjarakan," tambahnya.


Menurutnya negara tidak boleh berkompromi dengan para penjahat. Termasuk dengan penjahat penjualan manusia.


"Negara ini tidak diproklamirkan untuk memelihara penjahat. Negara ini dilahirkan agar pemerintahnya betul-betul membahagiakan rakyatnya. Termasuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat secara benar," pungkasnya. (Dw/*)