Hiasan Emas kepala kubah masjid dari Warga hilang dicuri, ternyata pelakunya -->

Breaking news

Live
Loading...

Hiasan Emas kepala kubah masjid dari Warga hilang dicuri, ternyata pelakunya

Wednesday 13 March 2024

Pekerjaan sehari nelayan, dia juga guru ngaji di masjid Al-Huda, dok. istimewa (13/3)


Maluku, Buru - Polisi menangkap AG (67), pelaku pencurian emas 2,6 kilogram yang dijadikan hiasan kepala kubah Masjid Al-Huda di Kabupaten Buru, Maluku. Terungkap, pelaku merupakan guru mengaji di masjid itu.


"Pekerjaan sehari nelayan, dia juga guru ngaji di masjid Al-Huda," ujar Kapolres Buru AKBP Sulastri Sukijang, Senin (11/3).


Menurut Sulastri, pelaku AG bukan warga asli Desa Kaiely sebagai lokasi Masjid Al-Huda. Namun dia mengakui pelaku memang sudah lama menetap hingga menjadi guru mengaji di desa tersebut.


"Asli Kaiely bukan, dia orang Malut, tapi sudah nikah dan tinggal di sana," katanya.


Pelaku AG sendiri beraksi seorang diri menggunakan 2 tangga yang terbuat dari kayu dengan ukuran tinggi tangga 5,18 meter dan tinggi 3 meter. Pelaku juga membekali diri tali nilon warna hijau, dan kayu panjang berukuran 5 meter yang di ujungnya dipakukan besi 6 sebagai pengait.


"Motif Tersangka kebutuhan ekonomi, karena tersangka terlalu banyak utang-piutang sehingga tersangka berani mengambil tindakan pencurian tersebut," sambungnya.


Emas murni yang dicuri oleh pelaku AG itu merupakan hasil jerih payah penambang dan warga desa setempat yang disumbangkan menjadi hiasan kubah masjid. Emas tersebut setara Rp 3 miliar.


"Jadi warga dan penambang menyisakan rezeki berupa biji emas dari hasil menambang di Gunung Botak. Total sumbangan terkumpul saat itu 2,6 kilogram emas murni setara Rp 3 miliar," kata Raja Petuanan Negeri atau Desa Kaiely, Fandi Ashari Wael, Selasa (5/3).


Fandi menjelaskan inisiatif membuat kepala kubah masjid berhias emas bermula di tahun 2014 silam. Saat itu, Gunung Botak yang masuk petuanan Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, bermunculan emas.


Raja Desa Kaiely sebelumnya M. Fuad Wael, ayah Fandi kemudian berinisiatif membuat hiasan kepala kubah masjid dari emas Gunung Botak. Hiasan itu juga untuk dijadikan ikon desa.


Perangkat desa lalu ditugaskan khusus mengumpulkan biji emas yang disumbangkan secara sukarela oleh penambang dan warga desa. Setahun berselang, tepat di tahun 2015 emas yang dikumpulkan mencapai 2,6 kilogram.


"Kita lalu mendatangkan para pengrajin dari Sulawesi Selatan untuk membuat kepala kubah masjid berukiran lafaz Allah berbahan emas," jelasnya. (dw/*)