
Dok. ist (26/7/2026) Mayor Jenderal Ali Abdollahi: Untuk setiap warga negara Republik Islam Iran yang gugur sebagai martir, satu anggota militer Amerika akan dikirim ke neraka. Kami telah menyiapkan tiket sekali jalan gratis langsung ke neraka untuk kalian.
Jakarta - Eskalasi militer antara Amerika dan Iran kembali bergolak hebat. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran mengumumkan penerapan persamaan medan perang baru secara resmi terhadap target militer Amerika Serikat (AS), menyusul berakhir dan dilanggarnya kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni 2026.
Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa Iran akan terus melanjutkan operasi pembalasan menyasar pangkalan dan aset strategis AS di kawasan, dilansir dari viva.co.id (26/7/2026).
Ia menyampaikan peringatan keras bahwa setiap korban jiwa dari pihak warga negara Iran akan dibayar setimpal dengan nyawa personel militer AS.
"Aturan yang sebelumnya telah kami buktikan keberlangsungannya kepada musuh. Mulai saat ini, telah menjadi persamaan definitif dan resmi yang mengatur medan perang,” kata Ali Abdollahi dalam pernyataannya dikutip dari kantor berita Tasnim, Sabtu (25/7/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan sikap tegas Teheran terhadap eskalasi terbaru di lapangan.
Ali Abdollahi memperingatkan pihak Amerika Serikat untuk tidak meremehkan ketetapan baru ini.
“Untuk setiap warga negara Republik Islam Iran yang gugur sebagai martir, satu anggota militer Amerika akan dikirim ke neraka. Kami telah menyiapkan tiket sekali jalan gratis langsung ke neraka untuk kalian,” sambungnya.
Peringatan bernada keras itu mengemuka setelah militer AS melanjutkan serangan udara beruntun terhadap wilayah Iran selama 13 malam berturut-turut.
Pihak Iran mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan perang yang terang-terangan karena menargetkan berbagai situs sipil.
Sebagai jawaban langsung, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan balasan masif terhadap berbagai posisi strategis Amerika di seluruh Asia Barat.
Konflik bersenjata ini menambah panjang rentetan ketegangan yang sempat mereda beberapa bulan lalu.
Sebagai kilas balik, Amerika Serikat dan Israel pertama kali melancarkan perang terbuka terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Namun, setelah berlangsung selama 40 hari, AS dan sekutunya menerima kesepakatan gencatan senjata pada 8 April di tengah perlawanan sengit yang ditunjukkan Iran.
Langkah diplomasi sempat membuahkan harapan ketika Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang dimediasi oleh Pakistan pada 17 Juni 2026 untuk mengakhiri seluruh permusuhan.
Kendati demikian, Iran menuding Washington melanggar semua ketentuan dalam kesepahaman tersebut dengan kembali menyerang Iran, sehingga mendorong Iran memberikan tanggapan yang tegas.
Menanggapi ketegangan yang kian memuncak, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui saluran diplomasi, meskipun opsi militer tetap disiagakan.
“Ada dua cara. Saya menganggap itu cara yang lebih cerdas, tetapi yang lain mungkin cara yang lebih mudah,” kata Trump merujuk opsi diplomasi atau serangan militer.
Dengan runtuhnya MoU dan intensitas pertempuran yang meningkat di Asia Barat, masa depan kestabilan kawasan kini berada dalam ketidakpastian tinggi. (***)
