
Dok. ist (13/7/2026) Kutukan dan penolakan keras Kerajaan Arab Saudi terhadap perilaku Iran yang terus mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan.
Jakarta - Pemerintah Arab Saudi mengutuk keras serangkaian serangan terbaru oleh Iran terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk dan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Otoritas Riyadh menyebut tindakan Teheran tersebut sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan, dilansir dari Detikcom.
Reaksi keras Saudi ini, seperti dilansir Al Arabiya, Senin (13/7/2026), disampaikan setelah Iran kembali melancarkan rentetan serangan terhadap negara-negara Teluk pada Minggu (12/7) waktu setempat, untuk membalas gempuran terbaru Amerika Serikat (AS).
"Kementerian Luar Negeri menyatakan kutukan dan penolakan keras Kerajaan Arab Saudi terhadap perilaku Iran yang terus mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi yang dirilis pada Minggu (12/7) waktu setempat.
Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut serangan Iran tersebut sebagai "pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional, Piagam PBB, Piagam Organisasi Kerja Sama Islam, serta prinsip-prinsip hubungan bertetangga yang baik".
Lebih lanjut, Saudi mengecam serangan berulang Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, yang dinilai "mengancam keamanan dan kebebasan navigasi". Riyadh juga mengecam serangan terhadap Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).
"Menegaskan kembali penolakan penuh (Saudi) terhadap pelanggaran oleh Iran terhadap kedaulatan negara-negara sahabat serta ancaman berkelanjutan terhadap keamanan dan stabilitas kawasan," tegas Kementerian Luar Negeri Saudi dalam pernyataannya.
Iran melancarkan rentetan serangan rudal dan drone ke arah negara-negara tetangganya di kawasan Teluk, yang menampung aset-aset militer AS, pada Minggu (12/7) sebagai pembalasan atas pengeboman terbaru AS, menyusul serangan pasukan Teheran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz yang terbakar.
Iran Bilang Tidak Menyerang, Tapi Membela Diri.
Kementerian Luar Negeri Iran menolak narasi Barat yang menyebut serangan terbaru Iran sebagai agresi tanpa provokasi. Iran menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan membela diri yang sah terhadap pelanggaran Amerika Serikat-Israel yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan atas "terjadinya kembali konfrontasi militer" dan tindakan Iran di kawasan tersebut.
Menanggapi ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menekankan bahwa situasi tersebut bukan sekadar "konfrontasi militer", tetapi kelanjutan dari agresi terang-terangan dan tanpa provokasi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel pada 28 Februari.
"Iran tidak 'menyerang'. Serangan Iran terhadap pangkalan dan aset militer AS yang ditempatkan di Teluk Persia selatan merupakan pelaksanaan hak inheren Iran untuk membela diri berdasarkan hukum internasional yang sah dan sesuai hukum," kata Baghaei, dilansir media Iran, Press TV. (**)