Dok. Nur (16/8/2026) Kompetisi tahunan ini berlangsung ketat dengan melibatkan seluruh instansi pendidikan dari jenjang SD hingga MA, serta puluhan stan kreatif perwakilan RT setempat.
Kompetisi tahunan ini berlangsung ketat dengan melibatkan seluruh instansi pendidikan dari jenjang SD hingga MA, serta puluhan stan kreatif perwakilan RT setempat. Di tengah sengitnya persaingan, MI Roudlotul Ulum tampil totalitas memadukan esensi nasionalisme, pelestarian budaya lokal, dan edukasi kewirausahaan (entrepreneurship) sejak dini.Melalui konsep "Ngambon Djadoel",
Seluruh guru, siswa, dan wali murid kompak mengenakan pakaian adat klasik seperti lurik Jawa, kebaya lawasan, dan caping bambu. Selain visual stan yang estetis, madrasah ini mendominasi kategori kuliner lewat jajanan pasar otentik seperti cenil, lupis, gatot, tiwul, dan klepon. Guna mendukung gerakan ramah lingkungan, seluruh hidangan disajikan tanpa kemasan plastik, melainkan menggunakan takir daun pisang, bakul bambu, dan kendil tanah liat.
Kepala MI Roudlotul Ulum, Mohamad Saleh, S.Pd, mengungkapkan rasa syukur atas gotong royong seluruh keluarga besar madrasah sehingga siswa bisa belajar sejarah dan ekonomi secara nyata. Demi masa depan institusi, ia juga mengetuk pintu perhatian dan mengharapkan sinergi yang lebih kuat dari pemerintah serta masyarakat luas."Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat luas agar MI Roudlotul Ulum dapat terus berbenah dan berinovasi.
Kami juga mengajak para orang tua yang putra-putrinya belum sekolah untuk memercayakan pendidikan mereka di madrasah ini. Melalui kepercayaan dan sinergi tersebut, madrasah kita akan semakin maju dan mampu membimbing generasi penerus bangsa secara lebih optimal," ujar Mohamad Saleh.(Nr)
