
Dok. ist (5/9/2026) Media Inggris, the Guardian menulis, "More than 800 students and teachers in Indonesia suffer food poisoning after eating government free meals."
Jakarta - Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis yang terjadi di Sidoarjo menarik media internasional. Kasus ini menjadi perhatian mengingat jumlah korban yang lebih dari 500 orang, dilansir dari Republika.co.id (5/9/2026).
Kantor berita Reuters menulis judul, "Over 500 students suffer food poisoning in Indonesia's East Java." Reuters mengutip pejabat Bagan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana.
"Fokus kami saat ini adalah menyelamatkan kesehatan anak-anak kami di sejumlah rumah sakit," ujar Ketut dalam sebuah pernyataan video.
Tulisan Reuters dikutip banyak media asing termasuk US News.
Media Aljazeera yang berbasis di Qatar membuat cerita keracunan ini dalam bentuk tayanan visual. "Over 500 students hospitalised after eating state-supplied meals in Indonesia," tulis Aljazeera dengan menayangkan korban yang tengah dirawat.
Media Inggris, the Guardian menulis, "More than 800 students and teachers in Indonesia suffer food poisoning after eating government free meals."
The Guardian menggabungkannya dengan kasus serupa yang terjadi pekan ini, termasuk perkara keracunan di Sidoarjo. Sebanyak 566 siswa jatuh sakit setelah menyantap makanan gratis h di Sidoarjo, Jawa Timur.
Kemudian insiden di Nganjuk, yang juga terletak di Jawa Timur, 49 siswa jatuh sakit pada hari Rabu setelah menyantap makanan gratis berupa nasi goreng, ayam, dan tahu.
Menangguhkan SPPG
Badan Gizi Nasional (BGN) menangguhkan atau suspend berat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo Talangangin Kalitengah, Jawa Timur, yang menyebabkan kejadian fatal keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 512 siswa di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
"Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan," ujar Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana di Jakarta, Rabu.
Ketut menegaskan, Kepala BGN Sudaryono juga telah berkomunikasi secara intensif dengan kepala daerah dan pimpinan Pondok Pesantren Manbaul Hikam untuk menindaklanjuti kasus tersebut dan mengutamakan kesembuhan siswa.
"Kemudian, kami juga melakukan tindakan-tindakan internal, pertama, investigasi dengan dinas kesehatan terkait dan hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan keracunan," katanya.
Berdasarkan data investigasi terakhir BGN, total penerima manfaat yang terdampak keracunan MBG di SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah sebanyak 512 orang, dengan jumlah penerima yang masih dirawat sekitar 80 orang, serta yang sudah keluar dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh 312 orang.
"Namun demikian, kita masih observasi sebanyak 120 orang. Saat ini, kita fokus menyelamatkan kesehatan anak-anak kita di beberapa rumah sakit, ini yang kami utamakan," tuturnya. (***)
