
Dok. ist (27/9/2026) Hubungan kedua negara semakin erat sejak Maroko dan Israel menormalisasi hubungan diplomatik pada 2020. Kerja sama tersebut kemudian berkembang ke sektor pertahanan, keamanan, perdagangan hingga teknologi.
Jakarta - Maroko yang merupakan negara mayoritas Muslim, makin memperdalam hubungan pertahanannya dengan Israel. Sejumlah perusahaan pertahanan terbesar Israel dijadwalkan hadir dalam Marrakech Airshow 2026 yang berlangsung pada 7-10 Oktober mendatang, dilansir dari CNBC Indonesia (27/9/2026).
Israel Aerospace Industries (IAI), Elbit Systems, Rafael Advanced Defense Systems, Xtend, hingga Uvision termasuk perusahaan yang akan memamerkan teknologi pertahanan di ajang tersebut. Produk yang ditampilkan mencakup sistem pertahanan udara, drone, senjata presisi hingga teknologi satelit.
Marrakech Airshow digelar di pangkalan Royal Moroccan Air Force dan menjadi salah satu ajang penting bagi industri dirgantara serta pertahanan di kawasan Afrika. Kehadiran perusahaan Israel sekaligus mencerminkan hubungan pertahanan kedua negara yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Maroko sebelumnya telah membeli sejumlah sistem pertahanan buatan Israel. IAI antara lain memasok sistem pertahanan udara Barak 8 dalam transaksi senilai sekitar US$500 juta. Maroko juga dilaporkan membeli berbagai drone Israel, termasuk Heron 1 dari IAI serta Hermes 450 dan Hermes 900 dari Elbit Systems.
Maroko Genjot Belanja Militer
Langkah Maroko memperkuat kerja sama dengan Israel berlangsung di tengah meningkatnya belanja pertahanan negara tersebut.
Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan belanja militer Maroko mencapai sekitar US$6,3 miliar (Rp112 triliun) pada 2025, meningkat 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menjadikan Maroko sebagai salah satu pembelanja militer terbesar di Afrika.
Pada saat yang sama, Aljazair, negara tetangga sekaligus rival regional Maroko, menghabiskan sekitar US$25,4 miliar untuk kebutuhan militer pada 2025. SIPRI mencatat ketegangan lama antara kedua negara menjadi salah satu faktor yang mendorong belanja pertahanan mereka.
Salah satu sumber utama ketegangan adalah konflik Sahara Barat. Maroko menguasai sebagian besar wilayah tersebut, sementara Front Polisario yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat mendapat dukungan dari Aljazair. SIPRI mencatat Maroko dan Aljazair menjadi dua importir utama persenjataan di Afrika Utara dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, dalam periode 2021-2025, impor senjata utama Maroko naik 12% dibandingkan periode lima tahun sebelumnya. SIPRI mencatat Maroko menjadi importir senjata terbesar di Afrika pada periode tersebut
Hubungan Israel-Maroko Makin Dalam
Hubungan kedua negara semakin erat sejak Maroko dan Israel menormalisasi hubungan diplomatik pada 2020. Kerja sama tersebut kemudian berkembang ke sektor pertahanan, keamanan, perdagangan hingga teknologi.
Momentum terbaru terjadi pada September 2026. Dalam pertemuan trilateral di New York bersama Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita dan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menyepakati langkah untuk meningkatkan hubungan diplomatik kedua negara.
Kesepakatan tersebut mencakup peningkatan misi diplomatik menjadi tingkat kedutaan serta penunjukan duta besar. Pertemuan itu berlangsung pada 16 September dan difasilitasi Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Mike Waltz.
Penguatan hubungan diplomatik tersebut berjalan beriringan dengan kerja sama pertahanan yang semakin dalam. Bagi Maroko, kerja sama dengan perusahaan Israel membuka akses terhadap teknologi pertahanan canggih sekaligus mendukung ambisinya membangun industri pertahanan domestik.
Sementara bagi perusahaan pertahanan Israel, Maroko juga menjadi pintu masuk strategis ke pasar Afrika yang tengah meningkatkan belanja militernya. (**)


