
Dok. ist (27/10/2026) Pemuda bernama Song Xingyu itu mengembangkan alat terbang bertenaga listrik dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI.
Jakarta - Inovasi seorang pemuda asal China menarik perhatian publik setelah ia menciptakan papan terbang futuristik ala Green Goblin dalam film Spider-Man. Pemuda bernama Song Xingyu itu mengembangkan alat terbang bertenaga listrik dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI.
Menariknya, ia berhasil menerbangkan karyanya melintasi Sungai Yangtze dan sebuah ngarai di kampung halamannya. Aksi tersebut kemudian viral di media sosial dan memperlihatkan eksperimen teknologi yang ia kembangkan secara mandiri, dilansir dari RRI.
Song Xingyu menggunakan nama Shenqi Ayu saat beraktivitas di dunia maya. Ia termasuk generasi Z yang meninggalkan bangku sekolah ketika berusia 14 tahun. Meski demikian, Song terus mempelajari mekanika, sistem kendali penerbangan, serta kecerdasan buatan secara mandiri. Berbekal pengetahuan tersebut, ia mulai merancang papan terbang yang menyerupai kendaraan milik Green Goblin.
Prototipe Pertama Terbakar, AI Bantu Pengembangan
Pada awal pengembangan, Song menggunakan lima mesin turbojet mini untuk menghasilkan daya angkat. Menurut keterangannya, mesin tersebut mampu mengangkat beban setara tiga orang dewasa. Namun, ia menghadapi masalah serius ketika mengoperasikan seluruh mesin secara bersamaan. Posisi mesin yang berdekatan dan terlalu rendah membuat gas buang panas kembali masuk ke saluran udara hingga memicu kebakaran.
Setelah mengalami kegagalan tersebut, Song memanfaatkan agen AI untuk menganalisis data pengujian. Sistem itu kemudian menyarankan penggunaan tenaga listrik sebagai alternatif penggerak. Selanjutnya, ia mengembangkan prototipe kedua dengan sepuluh motor listrik tanpa sikat atau brushless. Setiap motor menghasilkan daya dorong lebih dari 30 kilogram, sedangkan total daya dorongnya diklaim melampaui bobot empat orang dewasa.
Selain mengembangkan sistem penggerak, Song merancang mekanisme kendali yang praktis. Ia memasang pengatur kecepatan pada sebuah cincin yang dikenakannya di jari. Sementara itu, dua ponsel pintar menjalankan sistem AI untuk membantu menjaga keseimbangan selama penerbangan. Sistem tersebut juga memberikan arahan melalui perangkat audio yang terhubung ke telinganya.
Latihan Intensif Sebelum Melintasi Sungai Yangtze
Menjaga keseimbangan menjadi salah satu tantangan terbesar selama pengembangan papan terbang tersebut. Song bahkan mengalami beberapa kecelakaan ketika menguji alat dan mempelajari teknik pengendaliannya. Karena itu, ia menjalani latihan intensif selama lebih dari sepuluh hari. Latihan tersebut membantunya meningkatkan kemampuan mengendalikan papan terbang sebelum mencoba manuver yang lebih menantang.
Pada libur Hari Nasional China, Oktober 2026, Song menerbangkan papan buatannya melintasi Sungai Yangtze. Ia juga menjelajahi kawasan kampung halamannya sebelum melintasi sebuah ngarai sungai. Aksi itu memperlihatkan hasil pengembangan teknologi yang menggabungkan mekanika, motor listrik, dan kecerdasan buatan. Video penerbangannya kemudian menarik perhatian pengguna media sosial, terutama di platform Douyin.
Rampungkan Proyek dalam Dua Bulan
Song mengembangkan papan terbang ala Green Goblin tersebut selama kurang lebih dua bulan. Selama proses itu, ia menggabungkan keterampilan mekanika dengan pemahaman sistem kendali penerbangan. Ia juga memanfaatkan AI untuk membantu menganalisis hasil pengujian dan mengevaluasi rancangan. Dengan demikian, kegagalan prototipe pertama menjadi bagian dari proses pengembangan alat berikutnya.
Popularitas inovasinya terlihat dari jumlah interaksi di media sosial. Video penerbangan tersebut meraih hampir empat juta tanda suka di Douyin. Meski mendapat perhatian luas, Song mengingatkan para penggemarnya agar tidak meniru eksperimen tersebut. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk menerbangkan papan buatannya pada ketinggian yang lebih tinggi.
Kisah Song Xingyu memperlihatkan proses belajar mandiri dalam mengembangkan teknologi yang tidak biasa. Namun, eksperimennya juga menunjukkan tantangan teknis dan risiko keselamatan dalam merancang kendaraan terbang berukuran kecil. Penggunaan AI membantunya mengevaluasi kegagalan serta mengembangkan sistem kendali. (**)
