
Dok. ist (27/3/2026) Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lin Jian: Cina bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi.
Jakarta - Berminggu-minggu pertempuran antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mengganggu aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz, membuat pemerintah di Asia Tenggara kelabakan memastikan pasokan energi yang cukup bagi industri, penerbangan, dan kebutuhan rumah tangga. Pada saat yang sama, Cina mencoba mengubah kecemasan tersebut menjadi keuntungan, dilansir dari Detikcom.
"Cina bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lin Jian, dalam konferensi pers pekan lalu.
Lonjakan harga energi meluas di Asia
Negara-negara Asia Tenggara telah menerapkan berbagai langkah penghematan energi dan subsidi, serta berlomba mencari pemasok dan jalur perdagangan alternatif. Bahkan, negara seperti Malaysia dan Brunei yang merupakan produsen dan eksportir minyak dan gas tetap rentan terhadap inflasi dan gangguan rantai pasok di kawasan.
Pada 24 Maret 2026, Filipina menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun, dengan peringatan adanya "bahaya yang mengancam" terhadap pasokan energi. Pemerintah di Manila juga telah menerapkan sistem kerja empat hari bagi kantor pemerintahan serta membatasi penggunaan energi.
Filipina juga menyalurkan bantuan tunai bagi pekerja transportasi, sembari memperingatkan bahwa kekurangan bahan bakar pesawat dapat membuat sebagian armada tidak beroperasi. Vietnam telah menggunakan dana stabilisasi harga energi dan meminta maskapai bersiap menghadapi pemangkasan operasional, sementara para importir memperingatkan bahwa pasokan avtur hanya aman hingga Maret 2026.
Indonesia berjanji akan menahan sebagian dampak melalui anggaran negara dan peningkatan subsidi. Thailand mempertimbangkan bantuan tambahan seiring lonjakan harga solar yang memukul sektor seperti perikanan. Malaysia juga meningkatkan subsidi untuk menjaga harga bahan bakar tetap stabil.
Pemerintah di Asia Tenggara pun mencari pasokan sementara dari luar kawasan Teluk. Reuters melaporkan pekan lalu bahwa Asia diperkirakan mengimpor volume bahan bakar Rusia terbesar pada Maret, dengan Asia Tenggara sebagai penerima terbesar.
Cina selaraskan posisi dengan Asia Tenggara
Sementara itu, Cina memanfaatkan krisis ini untuk "menampilkan diri sebagai aktor yang bertanggung jawab dan penstabil, dengan menyerukan deeskalasi di Timur Tengah serta berjanji bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk mengatasi kekurangan energi," kata Li Mingjiang, profesor madya di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, kepada DW.
Beijing juga sejalan dengan sikap umum negara-negara Asia Tenggara terkait Iran, yakni mendorong diplomasi. Seperti negara di kawasan, pemerintah Cina ingin Selat Hormuz segera dibuka kembali, sambil tetap berhati-hati agar tidak terseret langsung dalam konflik, kata Chin-Hao Huang dari Lee Kuan Yew School of Public Policy kepada DW.
"Sejauh ini, respons publik Cina adalah menyerukan penahanan diri, gencatan senjata, dan dialog; ini merupakan titik temu bagi sebagian besar pemerintah di Asia Tenggara," tambah Huang.
Aksi AS dinilai tidak populer
Krisis ini juga memperkuat narasi Beijing bahwa Cina adalah kekuatan besar yang membela perdamaian, perdagangan bebas, dan multilateralisme, sekaligus memposisikan diri berseberangan dengan Amerika Serikat yang dianggap agresif.
"Intervensi militer AS-Israel di Iran sangat tidak populer di sejumlah negara Asia Tenggara. Cina bahkan tidak perlu melakukan apa pun agar citra AS semakin memburuk di kawasan," kata Enze Han, profesor madya di University of Hong Kong, kepada DW.
"Lonjakan harga gas di banyak negara juga memperburuk citra Amerika Serikat. Sekali lagi, Beijing tidak perlu melakukan apa pun agar kesalahan diarahkan ke AS," tambahnya.
Namun, mendekat ke Cina tidak menjamin stabilitas energi bagi negara Asia. Beijing sendiri telah membatasi ekspor bahan bakar untuk melindungi pasokan domestiknya.
Pada 18 Maret, Kamboja menyatakan pembatasan ekspor dari Cina dan Vietnam telah memaksanya mencari pemasok alternatif dan bersiap menghadapi kekurangan energi di dalam negeri.
Momentum peralihan ke energi terbarukan?
Dalam jangka panjang, krisis ini berpotensi memperkuat posisi Cina di Asia Tenggara. Guncangan energi mendorong kekhawatiran atas ketergantungan pada minyak Timur Tengah, sekaligus meningkatkan daya tarik energi terbarukan yang merupakan sektor di mana perusahaan Cina sangat kompetitif, kata Li kepada DW.
Cina telah terlibat dalam transisi energi hijau di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan Cina termasuk investor terbesar dalam industri kendaraan listrik dan baterai di kawasan. Beijing juga menjadi pendana utama proyek pembangkit listrik tenaga air dan ladang surya besar di Asia Tenggara daratan.
Berbicara dalam Forum Boao di Cina, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan Cina dapat "memainkan peran penting" dalam menentukan arah global dan "peran yang lebih besar dalam mendukung kemakmuran dan stabilitas kawasan," seraya mendorong Beijing tetap menjadi pendukung perdagangan terbuka berbasis aturan.
Wong juga menekankan bahwa ASEAN perlu bekerja sama dengan Cina dalam pengembangan energi terbarukan dan jaringan listrik regional. Jika perang Iran mendorong Asia Tenggara mengurangi ketergantungan pada minyak, Cina berpotensi diuntungkan, tidak hanya dari krisis saat ini, tetapi juga dari respons strategis kawasan ke depannya. (**)