
Dok. ist (30/3/2026) Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan.
Jakarta - Pemerintah Indonesia mengutuk keras insiden serangan di Lebanon yang menewaskan seorang prajurit TNI yang menjadi anggota Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), dilansir BBC News Indonesia.
Kementerian Luar Negeri Indonesia juga menyerukan dilakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan atas insiden tersebut.
"Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan," kata Kemlu IndonesiaI melalui akun X @Kemlu_RI, Senin (30/03).
Secara terpisah, politikus Partai Golkar yang juga anggota DPR Dave Laksono, meminta pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan kembali keberadaan prajurit TNI di Lebanon.
Bila perlu, lanjutnya, segera dilakukan penarikan pasukan TNI dari negara itu.
"Ada baiknya pemerintah melakukan, apa namanya, penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon," katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/03).
Sebelumnya, Sekjen PBB António Guterres melalui akun X-nya, Senin (30/03), menyebut satu anggota TNI meninggal dan seorang lainnya mengalami luka serius.
"Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari @UNIFIL_ di tengah permusuhan antara Israel & Hizbullah," tulisnya.
Dia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, teman, dan kolega penjaga perdamaian yang meninggal, serta kepada Indonesia.
Guterres menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB.
Belum ada keterangan resmi yang merinci identitas prajurit TNI yang meninggal dunia dalam serangan tersebut.
Kemlu melaporkan ada tiga anggota TNI lainnya yang cedera setelah "tembakan artileri tidak langsung" di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Minggu (29/03).
(**)