
Dok. ist (21/4/2026) BGN diketahui mengeluarkan uang mulai ratusan miliar rupiah hingga triliunan.
Jakarta - Belakangan ini, publik ramai membicarakan sejumlah pengadaan barang di Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai tidak langsung berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dilansir dari Detikcom.
BGN diketahui mengeluarkan uang mulai ratusan miliar rupiah hingga triliunan, mulai dari jasa event organizer (EO), pembelian semir dan sikat sepatu, hingga pengadaan kendaraan. Daftar belanja tersebut memicu tanda tanya: seberapa relevan dengan upaya perbaikan gizi masyarakat?
1. Anggaran Sewa Jasa EO
BGN menggelontorkan anggaran Rp 113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO). Menurut Kepala BGN Dadan Hindayana, pihaknya melakukan ini karena BGN merupakan lembaga baru yang tengah membangun sistem dan tata kelola operasional, sehingga sumber daya internal belum siap.
"Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri," ujar Dadan dalam keterangannya, Minggu (12/4).
Dadan menerangkan dalam penyelenggaraan event, kampanye publik, dan sosialisasi nasional yang berskala besar dan kompleks, diperlukan dukungan pihak profesional. EO, lanjut Dadan, memiliki keahlian yang belum sepenuhnya dimiliki BGN saat ini.
Dadan juga menilai penggunaan EO membantu aspek administrasi dan keuangan menjadi lebih tertib. Dengan pihak ketiga, proses pengadaan, pembayaran vendor, hingga pelaporan bisa dilakukan lebih sistematis.
"Ini justru memudahkan audit dan pengawasan karena semua terdokumentasi dengan baik," ujarnya.
2. Pengadaan Motor Listrik
Pengadaan lain yang membuat publik bertanya-tanya adalah terkait motor listrik untuk mendukung operasional program MBG, khususnya mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ini telah direncanakan dalam kerangka anggaran dan bukan program baru.
"Pengadaan motor listrik ini sudah direncanakan dalam anggaran tahun 2025 sebagai bagian dari dukungan operasional Program MBG," beber Dadan di Jakarta, Selasa (7/4).
Pada akhir 2025 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM) sehingga anggaran masuk ke Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA). Mekanisme ini mengacu pada PMK 84 Tahun 2025 dengan sistem pembayaran dua tahap, yakni 60 persen pada tahap pertama dan pelunasan setelah pekerjaan selesai 100 persen.
Namun hingga batas akhir 20 Maret 2026, penyedia hanya mampu menyelesaikan 85,01 persen atau sebanyak 21.801 unit dari total 25.644 unit yang dikontrakkan. Sisa dana yang telah ditampung kemudian dikembalikan ke kas negara.
Dengan begitu, realisasi pengadaan motor listrik tercatat sebanyak 21.801 unit. Dadan menegaskan informasi yang menyebut jumlah mencapai 70.000 unit tidak benar.
BGN juga menyatakan bahwa seluruh motor listrik yang diproduksi merupakan produk dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 48,5 persen. Produksi dilakukan di fasilitas manufaktur yang berlokasi di Citeureup, Jawa Barat.
3. Semir dan Sikat Sepatu
Paling baru adalah isu pengadaan semir dan sikat sepatu senilai Rp 1,5 miliar oleh BGN. Menurut Dadan, ini menjadi bagian dari kebutuhan pendidikan dan pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2025.
Program ini ditujukan untuk menyiapkan peserta sebagai komponen pendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Ini bagian dari perlengkapan pendidikan peserta SPPI," kata Dadan kepada wartawan, Jumat (17/4).
Menurutnya, anggaran pendidikan SPPI memang berasal dari BGN. Namun untuk proses pengadaan barang, termasuk semir dan sikat sepatu, dilakukan melalui skema swakelola tipe II dengan melibatkan Universitas Pertahanan.
Dadan merinci bahwa pengadaan tersebut masuk dalam tujuh paket kelengkapan perorangan lapangan yang diberikan kepada peserta SPPI. Total nilai pengadaan mencapai sekitar Rp 1,52 miliar.
Adapun rinciannya:
Semir sepatu: sekitar Rp 1,25 miliar
Sikat semir: sekitar Rp 272 juta
(**)