AS Dan Israel Disebut Biang 'Keladinya' Selat Hormuz Di Blokade -->

Menu Atas

 NEWS PENDIDIKAN  

Recent Posts Label

 ==================================== 

Adsense

Breaking news

Live News
Loading...

AS Dan Israel Disebut Biang 'Keladinya' Selat Hormuz Di Blokade

Friday, 3 April 2026

Dok. Ilustrasi /ist (3/4/2026) China mengingatkan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran merupakan "akar penyebab" blokade terhadap Selat Hormuz.


Jakarta - Mitra Iran dari timur, China menunjuk hidung Amerika Serikat (AS) dan Israel atas ditutupnya jalur laut krusial Selat Hormuz. China mengatakan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran merupakan akar penyebab blokade terhadap Selat Hormuz.l, dilansir dari Detikcom.


Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran. Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu, memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.


Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (1/4) malam, Presiden AS Trump mengatakan bahwa "negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut".


"Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan," ucap Trump dalam pidatonya.


Trump bahkan mendesak negara-negara yang bergantung pada Selat Hormuz untuk "rebut saja, lindungi, gunakan untuk diri Anda sendiri".


Trump juga mengklaim bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali "secara alami" setelah perang berakhir, dan bahwa "harga gas akan segera turun kembali" -- pernyataan yang, menurut CNN, telah dibantah oleh para ekonom dan analis.


Atas seruan Trump agar negara-negara yang terdampak pemblokiran Selat Hormuz untuk merebut jalur perairan strategis itu, China mengingatkan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran merupakan "akar penyebab" blokade terhadap Selat Hormuz.


"Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers terbaru, seperti dilansir AFP, Kamis (2/4).


Mao, dalam konferensi pers di Beijing, juga menyerukan gencatan senjata segera di Timur Tengah, setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan.


"Cara militer pada dasarnya tidak dapat menyelesaikan masalah ini, dan peningkatan konflik bukanlah kepentingan kedua belah pihak," kata Mao.


Dia mendesak "pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer".


Trump sebelumnya memberikan sinyal bahwa AS siap untuk mengintensifkan respons militernya terhadap Iran selama 2-3 pekan ke depan, dan mencetuskan akan membombardir Iran hingga kembali ke "Zaman Batu".


Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa masa depan Selat Hormuz harus diputuskan oleh Iran dan Oman. Araghchi menegaskan bahwa jalur perairan strategis itu berada di dalam wilayah perairan kedua negara.


"Pengaturan apa pun yang dibuat (terkait Selat Hormuz) setelah perang adalah urusan Iran dan Oman," tegas Araghchi dalam wawancara dengan televisi lokal Qatar, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (2/4).


Araghchi menambahkan bahwa Selat Hormuz "dapat menjadi jalur air perdamaian" untuk jalur aman. Tetapi dia juga mengatakan bahwa memastikan keamanan maritim dan perlindungan lingkungan akan membutuhkan mekanisme bersama di antara negara-negara pesisir.


Meskipun sebagian Selat Hormuz berada di dalam perairan teritorial Iran dan Oman, selat tersebut diklasifikasikan sebagai selat internasional, yang memberikan hak transit kepada kapal dan pesawat terbang berdasarkan hukum internasional.(**)