
Dok. ist (30/4/2026) Minat investor asing terhadap Indonesia masih tinggi. Namun, berbagai hambatan di dalam negeri membuat mereka berpikir ulang sebelum masuk.
Jakarta - Indonesia memiliki peluang menarik banyak-banyak investor asing. Pergeseran produksi dari China membuka peluang besar, namun momentum ini belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan, dilansir dari CNBC Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton J Supit mengungkapkan, minat investor asing terhadap Indonesia masih tinggi. Namun, berbagai hambatan di dalam negeri membuat mereka berpikir ulang sebelum masuk.
"Tren investasi itu banyak yang mau masuk, karena dia melihat terutama perang dagang Amerika dan China. Sehingga otomatis dia akan mengurangi dalam jumlah besar dari China," ujar Anton kepada CNBC Indonesia, Kamis (30/4).
Ia menjelaskan, Indonesia menjadi salah satu tujuan alternatif setelah Vietnam. Namun, sejumlah kendala membuat posisi Indonesia belum sepenuhnya kompetitif.
"Kalau ditanya selalu yang tujuan utama Vietnam. Tapi kembali lagi Vietnam sudah jenuh, mencari pekerja sudah susah. Lantas melihat kedua, Indonesia," katanya.
Di tengah peluang tersebut, persoalan klasik justru terus berulang. Mulai dari birokrasi hingga gangguan non-teknis yang menjadi faktor penghambat.
"Tetapi kalau pelayanan masalah perizinan, masalah Amdal. Masih ada gangguan dari ormas. Ini jujur sajalah, kalau tidak dibenahi, dia akan berpikir," tegasnya.
Persoalan ini bukan hal yang kompleks, melainkan hambatan yang sebenarnya bisa diselesaikan jika ada ketegasan.
"Masa urus Amdal satu tahun setengah? Ada perusahaan datang, surat dari ormas minta supaya pekerjaan ini kasih ke dia," ungkap Anton.
Situasi tersebut menciptakan ketidakpastian hukum yang membuat investor ragu. Sayangnya kondisi ini terus berlangsung berlarut-larut.
"Artinya problem ini adalah kepastian hukum. Kalau hukum berjalan dengan baik tidak ada ancaman-ancaman ini," jelasnya.
Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia bisa kehilangan momentum emas relokasi industri global.
"Kalau kita biarkan terlalu lama dan dia sudah terlanjur ke India, wah ini yang jadi persoalan," ujarnya.
Ia mengingatkan, investor yang sudah memilih negara lain biasanya tidak akan kembali.
"Sekali dia pergi ya tidak akan kembali. Jadi jangan sampai kesempatan itu yang mestinya kita nikmati malah hilang," ujarnya. (**)