Survei Terbaru Sebanyak 63 Persen Warga AS Tidak Puas Kinerja Donald Trump Sebagai Presiden -->

Menu Atas

 NEWS PENDIDIKAN  

Recent Posts Label

 ==================================== 

Adsense

Breaking news

Live News
Loading...

Survei Terbaru Sebanyak 63 Persen Warga AS Tidak Puas Kinerja Donald Trump Sebagai Presiden

Tuesday, 21 April 2026

Dok. ist (21/4/2026) Jajak pendapat terbaru NBC News Decision Desk yang didukung SurveyMonkey, secara keseluruhan, hanya 37% warga Amerika yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump, sementara 63% tidak setuju, termasuk 50% yang menyatakan sangat tidak setuju.


Jakarta - Tingkat persetujuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merosot ke titik terendah pada masa jabatan keduanya. Penurunan ini dipicu meningkatnya kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi dan penanganan konflik dengan Iran, dilansir dari CNBC Indonesia.


Berdasarkan jajak pendapat terbaru NBC News Decision Desk yang didukung SurveyMonkey, secara keseluruhan, hanya 37% warga Amerika yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump, sementara 63% tidak setuju, termasuk 50% yang menyatakan sangat tidak setuju. Angka ini menjadi level terendah sepanjang periode kedua kepemimpinannya.


"Dua pertiga warga Amerika tidak menyetujui penanganan inflasi oleh presiden," demikian hasil survei tersebut, dikutip Selasa (21/4/2026). Selain itu, mayoritas responden juga menolak pendekatan Trump terhadap konflik Iran.


Dukungan dari basis Partai Republik pun mulai menunjukkan retakan. Meski masih relatif tinggi, tingkat persetujuan di kalangan Republikan turun menjadi 83%, atau melemah 4 poin dibanding awal tahun. Bahkan, tingkat persetujuan yang sangat kuat dari kelompok ini turun dari 58% menjadi 52%.


Survei juga menunjukkan sentimen pesimistis yang meningkat. Hanya sepertiga warga Amerika yang menilai negara berada di jalur yang benar, sementara dua pertiga lainnya menilai sebaliknya, menjadi pandangan paling suram sejak Trump kembali menjabat.


Ekonomi Jadi Biang Utama

Isu ekonomi menjadi perhatian utama warga Amerika. Sebanyak 29% responden menyebut ekonomi sebagai isu paling penting saat ini, diikuti ancaman terhadap demokrasi (24%), layanan kesehatan (12%), serta kejahatan dan keamanan (10%).


Dari berbagai isu ekonomi, inflasi dan kenaikan biaya hidup menjadi keluhan terbesar, dipilih oleh 45% responden. Hanya 32% warga yang menyetujui penanganan inflasi oleh Trump, sementara 68% tidak setuju.


Mayoritas bahkan menyatakan ketidakpuasan kuat. Sebanyak 52% responden mengatakan sangat tidak setuju terhadap kebijakan Trump dalam mengatasi kenaikan harga.


"Persentase warga yang sangat tidak setuju meningkat signifikan dibandingkan musim panas lalu," tulis laporan survei tersebut.


Dampaknya terasa langsung ke kondisi keuangan masyarakat. Sekitar 40% warga Amerika mengaku kondisi finansial mereka lebih buruk dibandingkan setahun lalu, sementara hanya 19% yang merasa lebih baik.


Kenaikan harga energi turut memperparah tekanan. Hampir dua pertiga responden menyebut harga bensin sebagai masalah bagi keluarga mereka, dengan 29% menganggapnya sebagai masalah serius.


Penolakan Terhadap Perang Iran

Ketidakpuasan juga terlihat dalam kebijakan luar negeri. Sekitar dua pertiga warga Amerika tidak menyetujui penanganan Trump terhadap konflik dengan Iran, sementara hanya sepertiga yang mendukung.


Pandangan ini tidak banyak berubah bahkan setelah Trump mengumumkan gencatan senjata sementara pada 7 April. Dukungan terhadap kebijakan perang tetap stagnan di kisaran sepertiga populasi.


Mayoritas warga juga menolak eskalasi militer lebih lanjut. Sebanyak 61% responden menilai AS seharusnya tidak mengambil tindakan militer tambahan di Iran.


Penolakan lebih kuat datang dari generasi muda. Sebanyak 74% warga berusia di bawah 30 tahun menolak kelanjutan aksi militer.


Imigrasi Menjadi Sedikit Terang

Di tengah tekanan, Trump masih mendapat sedikit angin segar dari isu imigrasi. Tingkat persetujuan terhadap kebijakan perbatasan dan imigrasi naik menjadi 44%, meningkat 4 poin dibanding awal tahun.


Namun demikian, mayoritas publik (56%) masih menyatakan tidak puas.


Sementara itu, upaya reformasi aturan pemilu juga mendapat dukungan luas. Sekitar 75% warga Amerika mendukung kewajiban menunjukkan identitas berfoto untuk memilih, dan 61% di antaranya ingin syarat tersebut mencakup bukti kewarganegaraan.


Hasil jajak pendapat ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Kekecewaan terhadap ekonomi dan kebijakan luar negeri menjadi faktor utama yang berpotensi menggerus dukungan pemilih, meskipun Trump sebelumnya berjanji akan menekan inflasi dan menghindari keterlibatan dalam konflik global. (**)