Peneliti China Kembangkan Baterai Nuklir Klaim Bertahan Ribuan Tahun -->

Menu Atas

 NEWS PENDIDIKAN  

Recent Posts Label

 ==================================== 

Adsense

Breaking news

Live News
Loading...

Peneliti China Kembangkan Baterai Nuklir Klaim Bertahan Ribuan Tahun

Friday, 10 July 2026

Dok. ist (10/7/2026) Baterai nuklir, yang juga dikenal sebagai baterai radioisotop atau baterai atom, dapat menghasilkan listrik melalui proses peluruhan isotop radioaktif. 


Jakarta  - Para peneliti di China telah mengembangkan baterai nuklir generasi baru yang diklaim mampu bertahan hingga ribuan tahun. Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung berbagai perangkat yang digunakan industri, mulai dari sensor jarak jauh hingga perangkat medis, dilansir dari IDN (10/7/2026).


Tim peneliti dari Northwest Normal University bersama Gansu Zhulong Technology mengembangkan baterai nuklir berbasis isotop karbon-14 dan semikonduktor silikon karbida (SiC).


Selain memiliki kapasitas yang lebih besar, seluruh komponen utama baterai ini juga dikembangkan menggunakan teknologi asal China.


Baterai nuklir, yang juga dikenal sebagai baterai radioisotop atau baterai atom, dapat menghasilkan listrik melalui proses peluruhan isotop radioaktif. 


Isotop radioaktif meluruh sangat lambat dengan waktu paruh yang dapat mencapai puluhan hingga ribuan tahun, baterai ini dapat menghasilkan listrik jauh lebih lama dibandingkan baterai kimia konvensional.


Karakteristik tersebut membuat baterai nuklir cocok digunakan pada perangkat yang digunakan pada antariksa, sensor lingkungan di lokasi terpencil, hingga implan medis.


Sebelumnya, NASA telah memanfaatkan baterai nuklir pada roket Voyager yang diluncurkan pada 1977 serta rover Curiosity yang mendarat di Mars pada 2012. 


China juga menggunakan teknologi serupa pada rover untuk misi ke bulan, yaitu misi Chang'e-3 dan Chang'e-4.


Pengembangan baterai terbaru ini merupakan bagian dari strategi China untuk menciptakan baterai nuklir yang lebih kecil, lebih bertenaga, dan dapat digunakan secara luas di bebagai sektor industri.


Baterai Lebih Baik


Tim peneliti Northwest Normal University sebelumnya mengembangkan baterai nuklir berbasis karbon-14 bernama Zhulong-1 atau Candle Dragon-I pada 2024.


Generasi terbarunya, Qianjiyuan Tianshu, menggunakan material radioaktif lebih sedikit, tetapi mampu menghasilkan daya hingga 2,6 kali lebih besar tanpa mengorbankan tegangan maupun stabilitas.


Menurut pemimpin proyek tersebut, Su Maogen, versi sebelumnya masih menghadapi kendala berupa daya yang rendah, integrasi yang kurang optimal, serta biaya produksi yang tinggi. 


Karena itu, tim terus berupaya untuk mengembangkan baterai yang lebih kecil, lebih bertenaga, lebih terjangkau, dan sepenuhnya diproduksi di dalam negeri.


Tim peneliti menyebut Qianjiyuan Tianshu memiliki lima peningkatan utama dibandingkan dengan Zhulong-1, di antaranya adalah:


* Penggunaan sumber radioaktif yang lebih optimal

* Desain tiga dimensi bertumpuk untuk menghemat ruang

* Sistem manajemen daya berdaya rendah, serta sensor yang memungkinkan perangkat beroperasi secara mandiri tanpa sumber listrik eksternal.

* Efisiensi baterai juga meningkat berkat penggunaan transduser berbahan silikon karbida yang dikembangkan di China.


Kemampuan Baterai


Baterai nuklir generasi terbaru tersebut hanya berukuran sekitar 16,8 sentimeter kubik. Dengan menggunakan karbon-14 berkekuatan 129 milicurie, baterai ini mampu menghasilkan arus sebesar 0,713 mikroampere, tegangan 2,06 volt, dan daya maksimum 1,13 mikrowatt.


Berbeda dengan baterai nuklir konvensional yang mengubah panas hasil peluruhan radioaktif menjadi listrik menggunakan material termoelektrik, Qianjiyuan Tianshu memanfaatkan partikel beta hasil peluruhan karbon-14 yang langsung diarahkan ke semikonduktor silikon karbida untuk menghasilkan arus listrik.


Menurut para peneliti, prinsip kerjanya mirip dengan panel surya. Perbedaannya, apabila panel surya memanfaatkan cahaya matahari, baterai ini memanfaatkan radiasi sebagai sumber energi.


Meski ukuran baterai hanya diperkecil sekitar 17%, para peneliti berhasil meningkatkan kepadatan daya volumetriknya hingga sekitar 15 kali lipat.


Menurut laporan South China Morning Post, baterai nuklir tersebut secara teoretis dapat bertahan hingga ribuan tahun karena karbon-14 memiliki waktu paruh sekitar 5.730 tahun. (**)