AS Ungkap Rencana Israel Bunuh Pejabat Iran, Saat Berunding Akhiri Perang -->

Menu Atas

 NEWS PENDIDIKAN  

Recent Posts Label

 ==================================== 

Adsense

Breaking news

Live News
Loading...

AS Ungkap Rencana Israel Bunuh Pejabat Iran, Saat Berunding Akhiri Perang

Saturday, 4 July 2026

Dok. ist (4/7/2026) Menlu dan Ketua Parlemen Iran Diincar Israel.


Jakarta - Konflik yang melibatkan Israel dan Iran belum menemukan titik terang untuk berakhir. Amerika Serikat (AS) bahkan mengungkap rencana Israel membunuh pejabat Iran saat kedua negara tengah berunding mengakhiri perang, dilansir dari Detikcom.


AS dan Iran menyerang Iran pada 28 Februari silam hingga berujung pecahnya perang yang melibatkan tiga negara tersebut. Secercah perdamaian mulai terlihat saat AS dan Iran sepakat berdamai dan terlibat sejumlah perundingan.


Perdamaian AS dan Iran ditentang oleh Israel. Pihak Israel telah menargetkan pembunuhan dua pejabat Iran yang menjadi tokoh kunci perundingan damai.


Kedua tokoh yang ditarget Isarel untuk dibunuh ialah Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.


Informasi tersebut diungkapkan oleh media terkemuka AS, New York Times (NYT), dalam laporannya pada Kamis (2/7), dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika yang masih aktif maupun yang sudah tidak menjabat, yang memahami situasi tersebut.


Dilansir TRT World dan The Times of Israel, Jumat (3/7/2026), menurut laporan NYT, peringatan tersebut disampaikan secara tidak langsung oleh AS terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. AS meminta sekutunya itu untuk memperingatkan Iran mengenai rencana pembunuhan oleh Israel.


Sejumlah pejabat AS, menurut NYT dalam laporannya, meyakini bahwa Israel mungkin telah merencanakan pembunuhan terhadap Araghchi dan Ghalibaf, yang merupakan para negosiator utama Iran. Rencana itu dilakukan pada minggu-minggu pertama setelah gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu.


Pada saat itu, perundingan antara Washington dan Teheran, yang dimediasi oleh Pakistan, berlangsung semakin intensif.


Laporan NYT menyebutkan bahwa para pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump merasa sangat khawatir. AS meminta negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah untuk secara langsung memperingatkan Iran mengenai kemungkinan upaya Israel untuk menargetkan Araghchi dan Ghalibaf.


Para pejabat AS meyakini bahwa setiap upaya pembunuhan setelah negosiasi dimulai secara serius pada April lalu, akan menghentikan perundingan tersebut dan mengobarkan kembali perang AS-Israel melawan Iran.


NYT melaporkan bahwa Washington mengetahui setidaknya Ghalibaf telah dimasukkan ke dalam daftar target Israel dan mendesak Israel untuk tidak melakukan rencanya.


Laporan NYT tersebut juga mengutip pernyataan para pejabat Iran, yang mengungkapkan bahwa Teheran meminta jaminan dari AS, melalui mediator Pakistan dan Qatar, agar Israel tidak menyerang tim negosiator mereka selama pertemuan diplomatik berlangsung.


Pesawat Bawa Ketua Parlemen Iran Mendarat Darurat Gegara Ancaman Israel

Ancaman nyata dari Israel terhadap Ghalibaf, sebut laporan NYT, muncul ketika Ketua Parlemen Iran itu sedang dalam penerbangan kembali ke Teheran dari Islamabad usai melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April lalu.


Pasukan keamanan Iran, menurut dua pejabat Teheran yang berbicara kepada NYT, pada saat itu memberitahu awak pesawat yang membawa Ghalibaf soal informasi intelijen yang mengindikasikan rencana Israel untuk menyerang pesawat tersebut.


Bahkan pada saat itu, dua jet tempur Israel terdeteksi telah secara ilegal memasuki wilayah udara Iran dari wilayah Irak.


Pesawat yang membawa Ghalibaf tersebut akhirnya dialihkan rutenya dan melakukan pendaratan darurat di Mashhad, Iran bagian timur laut. Ghalibaf beserta anggota delegasi Iran lainnya kemudian melanjutkan perjalanan ke Teheran melalui jalur darat.


AS dan Iran hingga saat ini masih terlibat perundingan dalam membahas kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang. Belum ada tanda-tanda Israel melunak dan sepakat dalam mengakhiri perang di Timur Tengah. (**)