
Dok. ist (24/7/2026) Anwar merespons berbagai tekanan politik dan ancaman luar dari jajaran anggota Kongres Amerika Serikat.
Jakarta - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan kembali sikap prinsipil dan posisi tegas negaranya yang tanpa kompromi terhadap Israel, dilansir dari CNBC Indonesia. Pernyataan keras tersebut disampaikan Anwar merespons berbagai tekanan politik dan ancaman luar dari jajaran anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang dinilai mencoba menggoyang kedaulatan serta marwah negara tetangga Indonesia tersebut.
Mengutip rilis dalam unggahan resmi akun Instagram pribadinya, Kamis (23/07/2026), Anwar menyampaikan pidato tegasnya di Paroi, Negeri Sembilan. Di hadapan para awak media dan pejabat terkait, Anwar menekankan bahwa Malaysia bukanlah negara yang bisa dijadikan boneka atau ditekan oleh kekuatan luar mana pun.
"Saya tegaskan pendirian negara bahwa kita tegas tanpa kompromi terhadap entitas haram Zionis Israel. Jangan kira kita mudah ditantang sedemikian rupa seolah-olah Malaysia tidak memiliki martabat dan bisa dijadikan boneka. Kita memiliki kedaulatan dan selama saya di sini, saya akan pastikan pendirian kita tidak berubah sama sekali walaupun sebesar apa pun ancamannya!" tegas Anwar.
Anwar mengungkapkan bahwa kecaman serta ancaman dari politisi Amerika bergulir menyusul keputusan Malaysia yang memperketat larangan masuk bagi warga negara Israel, termasuk dalam ranah hubungan perdagangan. Menurutnya, pihak-pihak luar tersebut sama sekali tidak memahami sejarah diplomasi kawasan karena Malaysia telah menerapkan kebijakan pembatasan terhadap Israel selama puluhan tahun.
"Mereka telah membuat pernyataan mencela saya karena keputusan Malaysia untuk melarang masuknya warga Israel, termasuk dalam isu perdagangan dan sebagainya. Ternyata mereka tidak mengikuti perkembangan sama sekali. Banyak negara yang melarang, dan Malaysia melarang sudah puluhan tahun. Jadi mereka menggunakan kesempatan sekarang untuk mengancam saya dan Malaysia, serta memohon supaya pemerintah Amerika mengambil tindakan," jelasnya.
Anwar secara terbuka menjawab ancaman tersebut dengan menegaskan status Malaysia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Penolakan tegas Malaysia terhadap Israel didasari atas tindakan kezaliman, penjajahan, serta aksi pembunuhan massal harian yang merenggut nyawa warga sipil, wanita, dan anak-anak di Palestina.
"Saya menjawab dengan jelas. Pertama, mereka harus paham ini negara merdeka dan berdaulat. Dan penolakan kita kepada Israel karena kezaliman mereka, karena penjajahan mereka, karena pembunuhan setiap hari. Mana mungkin wakil-wakil rakyat negara mereka bisa menghapuskan kenyataan tentang pembunuhan anak-anak dan rakyat, wanita, pemusnahan rumah, penaklukan negeri, dan tidak mampu berbicara apa-apa," tegasnya.
"Malaysia ini negara merdeka. Kalaupun mereka yang berbicara itu tidak merdeka, tidak bebas menyuarakan, kita bebas menyuarakan. Oleh karena itu, ia tidak menghalangi, mereka boleh membuat ancaman, tetapi saya akan tegas mempertahankan hak rakyat Malaysia dan keputusan yang dibuat oleh rakyat Malaysia untuk tetap menghalangi kehadiran warga negara Israel mana pun di Malaysia," lanjut Anwar.
Saat didesak wartawan mengenai tuduhan pihak luar yang mengaitkan Malaysia dengan kelompok Hamas, Anwar dengan tenang membeberkan bahwa posisi diplomasinya sangat transparan. Ia bahkan pernah menyampaikan secara langsung kepada Presiden AS Donald Trump mengenai pertemuannya dengan pimpinan Hamas semata-mata untuk menyampaikan rasa duka cita kemanusiaan atas gugurnya anggota keluarga mereka akibat pemboman.
"Kita tidak ada masalah. Kita tidak ada masalah dengan kasus kejahatan, pembunuhan, dan kezaliman mana pun. Jadi kita tidak ada masalah dengan isu hubungan," tambahnya.
"Saya beri tahu, bahkan dalam pertemuan saya dengan Presiden Trump, saya beri tahu memang ya, saya berjumpa dengan ketua Hamas ketika itu untuk menyatakan simpati kepada keluarga mereka yang baru mengalami dampak hebat pemboman dan pembunuhan anak, istri, keluarga mereka. Jadi saya sudah sebutkan itu, jadi tidak ada hal yang aneh. Bagi saya, saya menolak kritik mereka karena tidak beralasan," jelas Anwar.
Terkait kekhawatiran dampak konflik ini terhadap hubungan bilateral antara Malaysia dan AS, Anwar meyakini bahwa kerja sama ekonomi kedua negara tidak akan terganggu. Malaysia dipastikan akan tetap mempertahankan hubungan baik serta menyambut investasi dan perdagangan dari AS, namun tanpa harus mengorbankan sikap kritis terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza.
"Amerika Serikat memang sudah tahu kebijakan Malaysia ini sudah puluhan tahun. Jadi saya tidak berpikir ini patut merusak hubungan. Kita masih menerima baik warga Amerika serta bisnis dan investasi perdagangan Amerika Serikat," ujarnya.
"Kita menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat sebagaimana yang kita lakukan dengan negara lain. Tetapi mustahil kita sampai tidak sanggup dan tidak berani menegur kelewatan dari segi pembunuhan rakyat yang tidak bersalah, termasuk di Palestina dan di Gaza," pungkas Anwar. (***)