
Dok. ist (6/9/2026) Kariv : Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan mengambil keputusan apa pun mengenai masa depan kami dan masa depan anak-anak kami.
Jakarta - Anggota parlemen oposisi Israel Gilad Kariv menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dicopot dari jabatannya, dengan menyebut pencopotan tersebut sebagai "kebutuhan eksistensial bagi masyarakat Israel, dilansir dari Metrotvnews.com (6/9/2026).
Kariv, anggota Partai Demokrat, menyampaikan tuntutan tersebut melalui platform media sosial X pada Sabtu. Ia juga mengkritik respons Netanyahu terhadap penyelidikan militer Israel mengenai peristiwa 7 Oktober 2023.
"Sama seperti Netanyahu menghindari mengunjungi komunitas kibbutzim di wilayah sekitar Gaza selama berbulan-bulan setelah 7 Oktober, ia juga menghindari menangani penyelidikan militer Israel mengenai segala sesuatu yang terjadi pada 7 Oktober," kata Kariv, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Minggu, 6 September 2026.
Ia menuduh Netanyahu berulang kali "mengabaikan" keamanan Israel serta menunjukkan "ketidakmampuan total" dalam menangani keamanan nasional.
"Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan mengambil keputusan apa pun mengenai masa depan kami dan masa depan anak-anak kami," ujarnya.
Tuntutan tersebut muncul di tengah desakan partai-partai oposisi dan sebagian masyarakat Israel agar dibentuk komisi penyelidikan negara untuk mengusut berbagai kegagalan yang terjadi menjelang dan saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Namun, pemerintahan Netanyahu menolak mekanisme tersebut dan memilih membentuk panel penyelidikan yang ditunjuk secara politik.
Mengutip Anadolu, pemilu Knesset dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober. Dukungan terhadap Netanyahu dan partainya, Likud, juga disebut terus menurun berdasarkan sejumlah hasil jajak pendapat.
Di tengah tekanan politik tersebut, Netanyahu masih menghadapi persidangan atas tuduhan korupsi. Ia juga menjadi target surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.
Perang Israel di Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut. Serangan Israel dilaporkan masih berlanjut meskipun telah diberlakukan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat. (***)
