
Dok. ist (26/4/2026) Sejumlah analis dan pengamat menilai arah kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru mempercepat Israel menuju titik yang disebut sebagai “bencana terbesar”.
Jakarta - Situasi dan kondisi di Tel Aviv dilaporkan kian memburuk di tengah meningkatnya tekanan keamanan dan krisis politik dalam negeri Israel, dilansir dari Tribun-video.com.
Sejumlah analis dan pengamat menilai arah kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru mempercepat Israel menuju titik yang disebut sebagai “bencana terbesar”.
Mengutip Al Mayadeen pada (25/4), kabar ini menurut laporan sumber utama Harian Israel "Maariv" yang rilis pada Sabtu (25/4/2026) pagi.
Lebih tepatnya Maariv mengkritik tajam Netanyahu.
Bahkan, memperingatkan kepemimpinannya berpotensi membawa Israel menuju “bencana terbesar” sejak pendudukan Palestina.
Surat kabar itu juga menyebut krisis paling berbahaya bagi Israel adalah perpecahan internal yang semakin dalam.
Sekali lagi memperingatkan, hal itu bisa berujung pada runtuhnya simbol ideologis yang disebut “Kuil Ketiga”.
Di mana, adalah gagasan pembangunan kuil Yahudi di Al-Quds, di area kompleks Masjid al-Aqsa.
Serangan pemukim Israel ke kompleks tersebut, termasuk terhadap jamaah Muslim, dinilai sebagai bagian dari upaya mengubah status quo historis dan religius.
Sekaligus memperkuat kontrol atas kawasan itu dan mengancam warisan Islam serta Kristen.
Menurut laporan Maariv, kondisi saat ini merupakan akibat kebijakan Benjamin Netanyahu.
Di mana, yang dinilai memperdalam perpecahan sosial hingga disebut sebagai “karya yang akan dibanggakan oleh para malaikat penghancur.” (**)