Iran Disebut Langgar Kesepakatan, Militer AS Kembali Lancarkan Serangan -->

Menu Atas

 NEWS PENDIDIKAN  

Recent Posts Label

 ==================================== 

Adsense

Breaking news

Live News
Loading...

Iran Disebut Langgar Kesepakatan, Militer AS Kembali Lancarkan Serangan

Saturday, 27 June 2026

Dok. ist (27/6/2026) Insiden tersebut terjadi pada Kamis ketika kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, dihantam drone bunuh diri saat melintasi jalur pelayaran yang direkomendasikan. 


Jakarta – Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran melanggar kesepakatan gencatan senjata menyusul serangan pesawat nirawak terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, dilansir dari IDN.


Seperti dikutip BBC, insiden tersebut terjadi pada Kamis ketika kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, dihantam drone bunuh diri saat melintasi jalur pelayaran yang direkomendasikan. 


Tidak ada korban jiwa dalam serangan itu, namun kejadian tersebut memaksa penundaan rencana evakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang masih terjebak di kawasan tersebut.


Komando Pusat Militer AS (US Central Command/Centcom) pada Jumat menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan rudal dan drone serta posisi radar pantai milik Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial.


Centcom menyebut serangan itu merupakan "respons yang kuat" terhadap tindakan Iran yang dinilai melanggar gencatan senjata dan mengancam kebebasan pelayaran di salah satu jalur perdagangan internasional paling vital di dunia.


Militer AS juga menegaskan akan terus memberikan dukungan keamanan bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Namun, hingga kini belum dipastikan apakah serangan tersebut merupakan aksi tunggal atau bagian dari operasi militer yang lebih luas.


Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengecam serangan tersebut dan menuduh Amerika Serikat kembali melanggar komitmennya.


IRGC juga menuding Israel turut bertanggung jawab atas meningkatnya ketegangan di kawasan.


Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa apabila serangan kembali terjadi, respons Iran akan jauh lebih besar. Kelompok tersebut juga menuduh Israel melanggar gencatan senjata di Lebanon, di tengah penandatanganan kerangka perjanjian perdamaian antara Israel dan Lebanon di Washington.


Ketegangan di Selat Hormuz meningkat sejak Iran menutup jalur pelayaran strategis itu setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. 


Penutupan tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengganggu distribusi berbagai komoditas penting.


Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyepakati penghentian permusuhan melalui nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani pada 17 Juni.


Salah satu poinnya mewajibkan Iran mengupayakan pelayaran kapal-kapal komersial secara aman tanpa pungutan selama 60 hari.


Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa apabila Iran memiliki keberatan terhadap implementasi kesepakatan tersebut, pembahasannya harus dilakukan melalui jalur diplomatik.


"Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," tulis Vance melalui platform X.


Sementara itu, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai serangan AS dilakukan di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung dan menyebut pelanggaran gencatan senjata itu akan berujung pada penyesalan bagi Washington.


Presiden Trump sendiri sebelumnya menolak menjelaskan secara rinci bentuk respons AS ketika ditanya wartawan di Gedung Putih. 


Ia hanya mengatakan bahwa Iran "seharusnya tidak melakukan serangan itu."


Beberapa hari sebelumnya, Trump menyatakan Iran telah memberi jaminan tidak akan mengenakan tarif, biaya asuransi, maupun pungutan lain terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.


Ia juga memperingatkan bahwa negosiasi akan dihentikan apabila informasi tersebut terbukti tidak benar.


Kapal Ever Lovely yang menjadi sasaran serangan dihantam proyektil sekitar 7,5 mil laut di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman. 


Menurut pemilik kapal, Evergreen, seluruh awak kapal serta muatan tetap dalam kondisi aman.


Menyusul insiden tersebut, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunda rencana evakuasi ribuan pelaut yang masih berada di jalur pelayaran strategis tersebut sejak konflik meletus. (**)