
Dok. ist (22/7/2026) PT Pertamina Patra Niaga melaporkan adanya perubahan pola konsumsi BBM masyarakat setelah dilakukan penyesuaian harga produk nonsubsidi.
Jakarta - Tertahannya harga produk BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) di level Rp 16.250 per liter membuat konsumsi BBM subsidi jenis Pertalite (RON) seharga Rp 10.000 per liter mengalami peningkatan. Kondisi ini jadi perhatian pemerintah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pihaknya sedang mengatur kuota produksi Pertalite seiring terjadinya perubahan pola konsumsi BBM untuk memastikan ketersediaan pasokan produk subsidi di SPBU.
Meski begitu, ia belum bisa memperkirakan seberapa besar peluang pemerintah untuk menambah kuota Pertalite yang saat ini masih 29,26 juta kiloliter sampai akhir 2026. Sebab saat ini, pihaknya masih fokus menangani masalah kelangkaan BBM yang sempat terjadi di Sumatra Utara.
"(Ada tambahan kuota Pertalite?) nah itu sedang di-manage ya. Kan kemarin juga salah satunya kita sedang menuntaskan masalah BBM di Sumatra Utara ya," kata Laode usai acara Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di JCC, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Lebih lanjut, saat ditanya apakah ada potensi penurunan harga untuk produk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Laode mengatakan perihal ini masih belum dibahas lebih jauh. Namun untuk produk nonsubsidi Pertamina yang lain selama ini selalu mengikuti harga pasar yang ada.
"Kita belum, kita tidak membahas itu dulu ya. Jadi belum ada pembahasan mengenai itu," ucapnya.
"Kalau yang seperti Turbo, kemudian Dexlite, Dex kan itu sudah mengikuti pola harga yang berlaku. Kalau misalnya crude-nya naik, dia ikut naik yang saya sebutkan ya, Turbo, Dex, sama Dexlite. Kalau yang lain saya belum bisa sampaikan," jawab Laode.l, dilansir dari Detikcom.
Sebagai informasi, sebelumnya PT Pertamina Patra Niaga melaporkan adanya perubahan pola konsumsi BBM masyarakat setelah dilakukan penyesuaian harga produk nonsubsidi pada 18 April 2026.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan, kondisi tersebut membuat konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar meningkat. Sebaliknya penjualan BBM nonsubsidi mengalami penurunan.
Sebagai contoh konsumsi Pertalite pada Juli meningkat sekitar 9,4%. Sementara penjualan produk BBM jenis Pertamax Series tercatat turun sekitar 18% dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini memicu terjadinya lonjakan permintaan BBM subsidi di beberapa wilayah.
"Ini mungkin salah satu lonjakan demand di beberapa wilayah yang saat ini juga membuat perubahan operasi dari Pertamina Patraniaga untuk bisa meng-cover atau mem-build up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita, khususnya SPBU," kata Eko saat rapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).
Fenomena serupa juga terjadi pada BBM jenis diesel. Hal ini terlihat dari penyaluran Biosolar yang meningkat sekitar 13,9% pada Juli, sementara penjualan Dex Series yang meliputi Dexlite dan Pertamina Dex turun sekitar 6,4%.
Sementara terkait potensi penurunan harga Pertamax, sebelumnya disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seiring penurunan harga minyak mentah dunia. Namun hal ini masih akan dibahas lebih jauh dengan dengan badan usaha penyedia BBM, baik Pertamina maupun swasta.
"Kita akan melihat, saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026) kemarin.
"Ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," sambung Bahlil. (***)