
Dok. ist (25/3/2026) Donald Trump telah membatalkan rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Alasannya, terdapat progres pembicaraan kedua negara.
Jakarta - Harga minyak mentah dunia anjlok usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim tengah bernegosiasi dengan Iran. Meski Iran sempat membantah adanya dialog langsung, pasar merespons positif klaim Trump tersebut, dilansir dari Detikcom.
Dilansir CNBC International, Rabu (25/3), harga minyak mentah Brent anjlok 5% ke level US$ 99,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga turun 5,1% ke angka US$ 87,63 per barel.
Berbicara langsung dari Oval Office, Gedung Putih, Trump menyebut dirinya telah membatalkan rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Alasannya, terdapat progres pembicaraan kedua negara.
"Mereka sedang bicara dengan kita, dan pembicaraannya masuk akal (talking sense)," ujar Trump.
Laporan dari The New York Times menyebutkan AS telah mengirimkan 15 poin proposal melalui Pakistan untuk mengakhiri konflik. Namun, menurut dua pejabat AS, masih belum jelas seberapa luas proposal yang dikirim itu telah disebarkan di kalangan pejabat Iran. Israel juga belum bisa dipastikan apakah terlibat dan mendukung rencana tersebut.
Di sisi lain, juru bicara komando militer gabungan tertinggi Iran memberikan sinyal bahwa pasar minyak akan tetap fluktuatif. Berdasarkan laporan Reuters, ia memperingatkan harga tidak akan normal sampai stabilitas regional diamankan di bawah kendali militer mereka.
Meski ada sinyal damai, kondisi di lapangan masih cukup panas. Iran hanya memperbolehkan kapal non-musuh melintasi Selat Hormuz asal koordinasi dengan otoritas Iran. Hanya kapal-kapal negara tertentu yang diizinkan Iran untuk melintasi jakur itu, misal kapal dari China, India, dan Pakistan.
Co-head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menyebut pasar saat ini sedang bergerak berdasarkan risiko geopolitik. Investor sedang waswas dan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap kemungkinan terburuk.
Pergerakan harga jangka pendek lebih didorong oleh persepsi kemungkinan skenario terburuk. daripada perubahan pandangan ekonomi dasar. Pihak perbankan memprediksi arus pengiriman minyak di Selat Hormuz baru akan kembali normal sepenuhnya pada April mendatang dengan asumsi ketegangan terus mereda. (**)