
Dok. ist (18/3/2026) Sejumlah analis Israel menilai strategi ini berpotensi melemahkan Iran hingga mendorongnya berkompromi dalam isu nuklir dan rudal balistik.
Jakarta - Militer dan pejabat politik Israel mengumumkan tewasnya Ali Larijani, pemimpin de facto Iran, sebagai keberhasilan besar dalam operasi militer dan intelijen. Serangan ini menjadi pukulan paling signifikan bagi kepemimpinan Iran sejak awal eskalasi konflik bersama Amerika Serikat dan Israel, dilansir dari CNBC Indonesia.
Melansir The New York Times, serangan tersebut juga mencakup operasi terhadap komandan milisi keamanan internal Iran, Basij, yang menambah tekanan terhadap struktur kekuasaan negara tersebut. Sebelumnya, serangan udara di Teheran bahkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi militer Iran.
Rangkaian aksi ini menunjukkan ketergantungan Israel pada strategi pembunuhan terarah untuk mencapai tujuan perang. Target utamanya adalah melemahkan pemerintahan Iran dan membuka peluang munculnya pemberontakan rakyat dengan merusak kekuatan keamanan internal.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam pesan video bahwa jika strategi ini terus dilakukan, rakyat Iran berpeluang menentukan nasibnya sendiri. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa militer akan terus memburu para pemimpin Iran dan memutus kekuatan mereka secara berulang.
Meski demikian, kematian Larijani memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas strategi tersebut dalam jangka panjang. Sejumlah pihak menilai Israel mungkin menggunakan taktik ini bukan hanya karena efektif, tetapi juga karena memiliki kemampuan untuk melakukannya, meski berisiko menimbulkan dampak tak terduga.
Israel sendiri memiliki sejarah panjang dalam operasi pembunuhan terhadap musuhnya. Mulai dari operasi balasan pasca tragedi Olimpiade Munich 1972 hingga penargetan tokoh militan Palestina saat Intifada Kedua dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah pada 2024.
Sejumlah analis Israel menilai strategi ini berpotensi melemahkan Iran hingga mendorongnya berkompromi dalam isu nuklir dan rudal balistik. Mantan pejabat Mossad Sima Shine menyebut tekanan berkelanjutan dapat membuat Iran pada akhirnya merasa tidak mampu menahan beban konflik.
Ia menambahkan bahwa pelemahan milisi Basij juga dapat mengurangi efektivitas aparat keamanan di lapangan. Hal ini berpotensi membuat anggota tingkat bawah enggan menjalankan tugasnya dalam menghadapi tekanan internal.
Namun, ada pula kekhawatiran bahwa kematian Larijani justru dapat memperkuat kelompok garis keras di Iran. Sosok Larijani dikenal sebagai figur pragmatis yang mampu menjembatani kelompok moderat dan militer garis keras.
Analis menilai penggantinya bisa berasal dari kalangan yang lebih agresif, seperti pimpinan Garda Revolusi Iran atau tokoh politik militer lainnya. Kondisi ini berisiko memperpanjang konflik dan memperkeras sikap Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Sebagian pihak juga menilai bahwa struktur kepemimpinan Iran cukup dalam untuk bertahan dari kehilangan tokoh-tokoh utamanya. Setelah kematian Khamenei, Iran bahkan dengan cepat menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru.
Mantan pejabat intelijen militer Israel Danny Citrinowicz menyebut strategi "pemenggalan kepemimpinan" memiliki keterbatasan. Ia menilai Iran masih memiliki kapasitas besar untuk menggantikan para pemimpin yang tewas.
Ia juga mencontohkan bahwa meski Israel berhasil menewaskan banyak pemimpin Hamas dan Hizbullah, kedua organisasi tersebut tetap bertahan meski dalam kondisi melemah. Menurutnya, strategi tersebut penting, namun tidak cukup untuk menjadi satu-satunya pendekatan dalam perang.
Peringatan juga datang dari mantan kepala badan keamanan internal Israel Ami Ayalon yang menilai strategi ini berisiko memicu kekacauan lebih luas di kawasan Timur Tengah. Ia mengingatkan bahwa menggulingkan rezim tidak selalu menghasilkan stabilitas, melainkan bisa memicu konflik berkepanjangan.
Ayalon menilai pemerintah Israel dan Amerika Serikat belum memiliki tujuan perang yang jelas dan terukur. Ia juga meragukan bahwa tekanan militer semata dapat mendorong rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah dalam waktu dekat.
Menurutnya, jutaan warga Iran bergantung pada rezim yang ada dan akan mempertahankannya demi keselamatan mereka. Ia mengibaratkan konflik ideologis seperti permainan catur, di mana kemenangan tidak cukup hanya dengan menjatuhkan satu tokoh utama. (**)